Rabu, 18 Desember 2013

Sang Takdir


(Malang, Hari ketiga, selesai tepat di waktu Subuh)
Ini bukan fiksi melainkan realiti tanpa ilusi. Akulah Lutfi.

Siang yang benderang—tak kuasa meneteskan peluh-peluh keletihan yang tergambar jelas dalam wajahnya. Untung saja hamparan taman masih mampu menghijaukan gairah jiwa. Meski semua mata menyaksikan sepasang bibir di sisi kirinya, tak ada kalimat yang terucap. Semua mata pun memandang jelas, namun aku hanya terlukis semu. Semu bagi semua orang, baginya pula. Justru keberadaanku yang semu tak dinyana mampu menghentikan beberapa detik waktu berlalu. Seluruhnya tiba-tiba membeku kaku di situ. Jantung, paru-paru, empedu, semua sekejap tertahan. Tak lama, sang dewa waktu membalikkan suasana. Jantungku kembali berdetak namun tak berhaluan. Entah apa yang terjadi, apa yang dirasa, semuanya masih semu hari itu. Berakhir.

Sang maha bintang—masih menyilaukan mata. Panasnya masih membara. Itu yang kunikmati di bawah tangga D7 Fakultas Sastra. Entah reaksi kimia apa yang sebenarnya ada, hawa dingin tiba-tiba merasuk sukma. Kanan kiri kulihat ribuan kaki berlalu-lalang. Hanya sepasang kaki, masih di bawah tangga, yang tak beranjak. Dari ujungnya, kutarik kedua bola mataku menuju ujung kepala, dan ahh kurasa jantungku terganggu.

Makan siang—di kantin ekonomi dengan pemandangan boyband-boyband  maksa diri memang menyenangkan. Namun itu dulu sebelum aku bertemu sang semu. Kini lebih asyik melahap santapan di bawah tangga. Ya, bawah tangga adalah pilihan nikmat melewati hari. Entah mengapa, setiap kali aku menduduki bawah tangga, aku merasa ada takdirku di sana. Takdir yang mampu menarik magnet-magnet mata yang tak dapat lagi berkedip jika ada dia.

Saat itu—aku mulai menyadari makna kehadirannya. Tepat di sampingku, hanya terpisah beberapa meter saja. Dia masih dengan lahap menyantap makan siang. Selalu makan, dan selalu siang. Mungkin inilah takdir. Karena setahuku, Tuhan tak mampu menciptakan apapun tanpa maksud. Pasti ada modus dalam setiap takdirnya. Dan aku merasa, dia lah sang “takdir” yang dikirim Tuhan bersama makan, bersama siang.

Bersama kawan—di sisi sang “takdir”. Aku tak lagi memanggilnya semu karena aku sekarang tahu bahwa dia nyata. Dia memiliki sepasang bibir merah jambu yang sangat kontras dengan kulitnya yang terlalu bersih dan rambut keriting panjangnya. Aku yakin namanya “takdir”.  Kami bertemu setiap waktu ketika orang-orang sedang makan di waktu siang. Ingat, Tuhan punya tujuan.

Sastraswati—memadu kita membaur dalam satu sastra. Memang benar saat acara, malam terlalu gelap dan dingin meski lampu-lampu berpijar. Namun mataku membara, ketika kutahu sang “takdir” memainkan melodi-melodi kehidupan meski aku tak dapat menemukan syairnya. Jemarinya terlalu lihai menarikan harmoni-harmoni jiwa dalam perpaduan warna. Aku memang terlalu bodoh untuk mengerti bahasanya. Tapi setidaknya aku tahu, dia adalah sang “takdir” dengan topi, bibir merah jambu, kulit bersih dan rambut ikalnya.
Di depan D8—kulihat “takdir”ku berjalan. Beberapa orang berkeliaran dan dia, dengan senyumnya, bersalaman. Entahlah aku tak percaya, akankah dia sungguh manusia atau memang utusan dewa. Semua orang mengenalnya, tapi aku tidak. Aku bahkan tak mampu mengidentifikasi reaksi yang terjadi saat aku di dekatnya. Setelah dia berlalu dan jantungku kembali berdetak normal, kupanggil seseorang. “Tori, kenalkah kau pada sang dewa?” Melalui beberapa penjelasan, dengan kebingungan dia menjawab “Kumal”.

Gazebo sempit—di taman E6 selalu menjadi bahan perdebatan. Prinsip ‘siapa cepat, dia dapat’ selalu lekat padanya. Meski bawah tangga adalah singgasana terindah bagiku, namun sore itu aku mendapat kesempatan bersama teman teater untuk menduduki Gazebo. Jantungku tiba-tiba nyeri dan kedua biji mataku kembali menemukan magnetnya. Kali ini mataku melumpuhkan seluruh indera dan benar-benar tak mau melewatkan sedikit saja memori tentangnya. Samar kudengar sahabatku, Wildan, berkata “Namanya …..”
Ingatkah engkau—kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Dialah satu-satunya nada yang kukagumi. Siang ini, aku masih di bawah tangga dan selalu menemukan hadirnya. Namun kali ini telingaku berdengung dan bibirku kaku ketika tiba-tiba aku dipertontonkan oleh Tuhan kepada pelantun Sebelum Cahaya. Sang “takdir” menjelma menjadi sosoknya, Mas Noe. Aku pun hampir pingsan karenanya. Kejutaan.
Waktu pun membiru—ketika tak kudapati dia di manapun. Sebelumnya, dia selalu ada dan terlihat dari- atau di bawah tangga. Satu, dua, tiga jam berlalu dan aku masih menunggu. Tubuhku membeku meski sesungguhnya terik mentari telah menyengatku berkali-kali. Setiap ketukan kaki dari manapun berbunyi, selalu kuamati. Namun nihil. Otakku terpaksa berpikir “Akankah dia membenci keberadaanku?”
Malam selalu dingin—tapi tak pernah separah ini. Aku sampai tak mampu memaknai apa yang esok akan terjadi. Jika terus seperti ini, aku bisa mati. Bukan karena musim ataupun iklim, tapi karena ketidakhadirannya lagi. Akhirnya aku menggila. Kuibaratkan jejaring sosial satu-satunya yang kupunya menjadi sosok sang “takdir”. Kukatakan padanya “Jika aku terlalu hina untuk menatap wajahmu, matamu, hidungmu, bibirmu, sudikanlah dirimu berada di depanku agar aku setidaknya bisa melihat sisi belakangmu. Apakah kau keberatan sementara aku bahagia?”

Mimpi—bagiku adalah dunia kedua yang terlalu nyata. Dan aku melihat dia di sana. Kuhentikan langkah kakinya, dan kusambut tiba-tiba kedua tangannya. Kukatakan padanya bahwa aku ingin menyatakan takdirku. Dia pun menjawab “Aku tau kamu selama ini mengamatiku dan aku pun begitu. Tak perlu berpura-pura, kita jalani saja takdir bersama.” Dia berlalu, ke depan, bersamaku. Dia lah kekasihku, takdirku, di dunia keduaku.

Sabtu pagi—masih terlalu dini untuk disebut malam minggu. Seharusnya aku bangun sebelum jam tujuh dan aku akan melihat sang “takdir” dengan kejutannya, dan berharap dia membawa kisah kami dalam dunia pertama. Namun nyatanya aku baru bisa melarikan diri dari dunia keduaku tepat jam tujuh. Dengan segenap kecerobohan, kulupakan mandi dan makan. Aku berlari menuju sahabatku, Karin, yang sedari tadi menanti. Sampai di Sasana Budaya, dari kejauhan terdengar lantunan syair kecintaan yang sebenarnya sama sekali tak kupahami. Namun jantungku kembali perih.
Siang yang berkeringat—masih di Sasana Budaya, kuperhatikan sang “takdir”ku. Apapun, kemanapun, dengan siapapun. Kupaksa mereka, agar dia bisa selalu kunikmati. Namun tiba-tiba temanku, Rendra, memanggilnya dan jujur bahwa aku ingin dia. Dunia terasa senyap saat tangan kanan kami beradu. Hangat, erat, dan membungkamkan seluruh hasrat. Beberapa detik tanpa kata, tanpa gerak. Bahkan mungkin dunia saat itu seketika berhenti dari rotasi dan revolusi sampai sepenggal kata yang tersendat terucap dari bibirku. “Kenalan” kataku. Dan dia berkata “Bukan Lutfi”, persis seperti yang kukatakan dalam mimpi, “Bukan Virgo”.
 
Akhir September—tahun ini masih pagi tapi terlalu singkat untuk tak berbuat. Setidaknya sekarang kami sudah saling memahami keberadaan masing-masing. Dia sungguh manusia dan aku masih percaya bahwa kami adalah sepenggal kisah yang perlu dirangkai dalam takdir. Kuselami seluruh lautan misteri dan kuhancurkan satu persatu. Apapun kulalui agar bisa lebih lama bersama sang “takdir”. Entah dunia nyata, dunia maya, aku ingin berada di setiap sisinya, tidak hanya di belakang, depan, atas, atau bawahnya saja. Persetan apakah hatinya kini mengaku ada yang memiliki atau tidak, akulah miliknya di dunia kedua. Tapi ……
Ormawa—rumah kita, Selasa itu menjadi awal bulan yang penuh sastra (Cerita Segala Rasa). Aku tahu dia cerdas dengan bahasa asing yang sama sekali asing bagiku. Ditafsirkannya seluruh bagian yang kuminta, yang mungkin tak disadari, penuh rasa dan makna. Pelan-pelan dengan penuh kehangatan, mengalir beberapa bulir anak sungai dari kedua mata. Sulit kujelaskan. Entah aku harus bahagia atau kecewa, aku terlalu dalam menikmatinya. Semua tak berlalu begitu saja karena aku menyimpan seluruh kejadiannya.
Di atas padang takdir—D8 lantai dua aku dapat menyeruakkan segala penat. Tak ada yang mengerti betapa lelahnya hati menanti sang “takdir” menyadari semua ini. Kupikir, setelah kami mencoba berkomunikasi, kehadiran kami benar-benar bisa dipahami. Namun rasa berdosa terlalu sesak memenuhi rasa. Dari ini aku ingin dia, suatu saat atau mungkin hari ini, menyadari bahwa ada hati di sini yang masih menanti sang “takdir” membawanya dalam dunia pertama segala rasa dari dunia kedua. Sang “takdir”, aku sama sekali tidak mengagumimu apalagi mengidolakanmu. Rasakan, aku mencintaimu. Kita harus merajut takdir ini bersama, atau kalau tidak, kita harus menjadi takdir untuk sepanjang jalan.

Yang Terdalam,
D. “Luna”

2 komentar: