Minggu, 08 September 2013

Mereka Mencerca Mereka Memercayai (HTI)




Oleh: Desyani Lutfihtaningrum

(Senin, 1 Juli 2013)--Sebelumnya saya minta maaf, postingan saya ini bukanlah karya fiksi (cerpen, puisi, maupun sejenisnya), melainkan cipta, rasa, karsa saya sendiri yang secara nyata saya alami dan sangat saya rasakan selama liburan semester ini. Saya juga minta maaf apabila postingan ini nanti menyinggung perasaan pribadi maupun golongan tertentu, bersifat SARA, atau mungkin akan menimbulkan pemikiran-pemikiran negatif. Tetapi maksud saya memublikasikan tulisan ini sama sekali bukan untuk itu, melainkan saya butuh kelurusan dari bengkoknya ilmu dan pengalaman saya, dari simpang siurnya cabang-cabang jalan menuju surga. Baiklah saya tidak ingin berbelit-belit serta panjang lebar lagi karena memang sudah ukurannya segini, langsung saja saya mulai bercerita. Begini ceritanya:
Beberapa waktu yang lalu, sampai hari ini dan beberapa waktu ke depan saya sedang menikmati liburan akhir semester genap. Awalnya cukup membahagiakan bagi saya sebagai seorang perantau, ini adalah kesempatan untuk lebih lama berkumpul bersama keluarga, saudara, teman lama, syukur-syukur bisa mendapat kerja. Ya saya memang seorang perantau. Saya lahir dan tinggal di daerah terpencil di Indonesia, dan sekarang menempuh kuliah di kota besar, Jawa Timur. Kalau Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina, saat ini saya masih sampai di negeri sendiri, tetapi justru di sini saya lebih banyak mempelajari negara tetangga. Ahh sudahlah bukan itu maksud dan tujuan saya.
Satu, dua, tiga hari berlalu memang begitu membahagiakan di kampung halaman. Makan tidak usah beli, tidak perlu membaca buku-buku asing, tidak berjibaku dengan tugas, tidak takut kesepian, kehangatan dan kebahagiaan keluarga cukup tercurah dari dan untuk saya. Tapi memang sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di rumah, saya merasakan keganjalan dalam hati saya. Suasana di sini sangat berbeda dengan di kosan. Sangat amat berbeda, baik secara positif maupun negatif. Sejak pertama sampai hari ini saya berusaha mengikuti tradisi, kebiasaan, dan suasana di sini meski pun hati kecil saya sebenarnya memberontak. Kekecewaan berat sangat saya rasakan sebab saya dengan durasi kurang lebih 3 jam di Kereta Api harus membawa tas yang di dalamnya berisi Al-Qur’an yang beratnya sekitar 2Kg, dan laptop yang beratnya juga sekitar 2,5Kg—di dalamnya banyak sekali aplikasi Al-Qur’an digital, Al Hadist, Al-Kitab, Fiqih, dan Sunnah-sunnah lainnya—dengan harapan saya akan banyak mempelajarinya di rumah bersama keluarga. Tetapi inilah kenyataan. Jangankan bersama keluarga, sendiri pun tidak terlaksana. Al-Qur-‘an sangat rapi di dalam lemari. Aplikasi sangat dalam tersimpan di laptop. Tapi itu belum seberapa.
Apabila masalah saya hanya tidak bisa membaca Al-Qur’an serta mempelajari agama di rumah, itu tidak akan memaksa saya membuat tulisan ini dengan judul sedemikian rupa. Yang lebih membuat hati saya menggeliat mengusik renungan dan membuat sukma saya berteriak adalah kebudayaan aneh yang dilaksanakan hampir setiap hari di lingkungan saya ini.
Sebelumnya, satu tahun yang lalu saya mendapatkan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam yang dibimbing oleh dosen Islam dari golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah(maaf saya menyebut merk). Saat itu kami membahas jalan-jalan menuju surga, dan tiba-tiba beliau menyebutkan salah satu golongan dalam Islam, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi telinga dan mata saya sebab sudah sangat sering kata tersebut dikumandangkan beserta pengikutnya yang berkoar-koar di kampus. Tetapi kemudian beliau berkata, “Saya juga pengikut HTI.” Kemudian beliau menuliskan “Hizbut Tahlil Indonesia” di papan tulis sambil terkekeh. Teman-teman pun terkekeh. Saya ikut terkekeh karena saya pikir itu hanya plesetan saja. Tidak hanya itu, satu tahun yang lalu pula, saat saya mengikuti Sholat Idul Fitri di kampung halaman, saya mendengarkan khutbah, dan khotib berkata, “Jangan sampai kita membiarkan anak cucu kita terjerumus ke dalam aliran HTI yang tidak percaya kepada qada’ dan qadar, dan tentu saja sudah menyimpang karena tidak sesuai Rukun Iman.” Saya pikir, mungkin saya salah dengar karena pengeras suara di masjid memang sangat buruk. Tapi ya beginilah saya. Selalu tidak sinkron antara otak dengan hati. Kemudian saya bertanya pada buku, teman-teman saya, bahkan sempat berniat untuk tanya pada pengikut HTI juga tetapi saya belum ada nyali, takut mereka tersinggung. Awalnya jawaban dari teman saya sedikit cukup melegakan walau pun mengambang. Mereka rata-rata menjawab “Alah sudahlah yang penting kita melakukan yang terbaik serta memercayai apa yang kita anggap benar dan sesuai dengan masyarakat.” Baiklah saya mengangguk dan berhenti mencari kebenaran sampai saat ini tiba.
Liburan datang, hati senang namun bimbang serta tidak tenang. Itulah yang saat ini saya rasakan. Kebudayaan yang saya maksud di awal tadi adalah kebudayaan Tahlilan di lingkungan saya. Memang sudah tidak asing lagi bagi saya karena sejak sebelum saya dilahirkan sampai saat ini dan mungkin seterusnya, kebudayaan ini sudah berakar dan benar-benar membudaya. Ada orang meninggal, tahlilan. Setiap satu minggu sekali terbagi atas beberapa golongan jama’ah, tahlilan. Ada hajatan, tahlilan. Memeringati hari besar pun tahlilan. Kalau tahlilan saja sama sekali tidak aneh dan saya dapat memaklumi. Tapi kemudian hati dan pikiran saya kembali tidak sinkron. Saat tetangga saya akan mengadakan tahlilan, saya pergi ke rumahnya untuk membantu sebisa saya. Kemudian setelah melalui pemikiran panjang dan lama, saya memberanikan diri untuk bertanya berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk mempersiapkan ini semua. Saya sangat tahu kondisi ekonomi keluarga ini. jangankan untuk membeli daging ayam, beras saja mereka selalu membeli yang paling murah, warna cokelat, bau apek, dan berkutu. Tapi hari itu saya melihat daging ayam yang sangat banyak, beras putih dan wangi, sayuran, jajanan beraneka ragam, serta beberapa kardus teh kemasan. Tetapi mbak yang saya tanyai itu hanya tersenyum mengatakan dengan polos, wajah memelas dan logat yang sangat kental, “Gak opopo. Sodakoh digawe almarhum. (tidak apa-apa. Sedekah untuk almarhum)” Baiklah lagi-lagi saya memaklumi dengan pikiran positif “Alhamdulillah kalau tidak begini mereka belum tentu makan enak. Memang kita dianjurkan untuk memberikan yang terbaik sepert yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh agama sebelumnya.” Tapi kemudian hati kembali mengusik, “Tapi kalau ini dari uang pinjaman, butuh berapa lama mereka untuk mengembalikannya? Sanggupkah mereka? Bukankah minimal satu tahun sekali mereka harus melaksanakan tahlilan seperti ini?” Belum sempat saya menghentikan perdebatan ini, saya kembali menemui kenyataan yang membuat suasana hati semakin carut-marut. Saya menemukan meja di sebuah kamar, di atas meja tersebut ada beberapa piring makanan dan  segelas bunga yang direndam air, dan sepincuk lagi di biarkan terbuka. Sebenarnya ini sama sekali bukan hal baru bagi saya. Tetapi saya kaget, sangat kaget karena sudah sangat lama saya tidak menemukan ini dan saya pikir tradisi seperti itu sudah hilang. Dengan pura-pura polos saya bertanya, “Mbak, ini opo? kok gawe kembang? Iki kan wes bengi gak usah kembang yo ndak bakal ono laler kok.(Mbak ini apa? Kok pakai bunga? Ini kan sudah malam tidak usah pakai bunga pun tidak akan ada lalat kok)” Kembali dengan logatnya yang khas dan senyum, dia menjawab, “Gawe almarhum” Ahh benar kan ini sesaji. MasyaAllah.
Di sini saya hanya orang biasa yang tidak pernah memberi pengaruh apa-apa kepada siapa saja, meski orang tua saya pemimpin kampung. Kata-kata saya tidak pernah benar-benar didengar bahkan oleh orang tua saya. Saya dikenal pendiam dan tertutup kepada siapa saja, termasuk kepada keluarga. Oleh karena itu pada saat saya menemui keganjalan ini dan apapun, saya hanya bisa menerka-nerka, bertanya pada diri sendiri, kadang pada teman-teman—yang sebenarnya juga tidak pernah benar-benar peduli dengan kebengkokan ini. Tetapi karena kali ini saya benar-benar muak dan mungkin saja muntab dengan keadaan ini, saya kemudian teringat dengan kata HTI (Hizbut Tahlil Indonesia) yang dulu kami tertawakan berjamaah.
Saya harus sangat hati-hati dalam memvonis sesuatu. Jadi, saya melakukan beberapa pengamatan dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebagian lebih dari jamaah Tahlil di sini buta tulisan arab. Lalu bagaimana mereka bertahlil? Ahh mungkin mereka belajar dari pendengaran kemudian menirukan. Ok tidak masalah dan malah bagus meski tidak bisa membaca tulisan arab, setidaknya mereka pernah melafadzkan ayat-ayat Allah dan kalimat-kalimat Berbahasa Arab. Bisa jadi do'a yang belum tentu mereka mengerti itu lebih dikabulkan oleh Allah karena niat dan ketulusan mereka yang luar biasa. Namun Faktanya tidak hanya masalah mereka buta tulisan arab, tetapi mereka dan anak cucu mereka hampir 75% tidak diajarkan—bahkan tidak dianjurkan--menutup aurat. Bukankah menutup aurat itu wajib? Mereka malah terlihat mengucilkan dan tidak jarang “Ngrasani” perempuan yang berjilbab syar’i dan menutup aurat dengan sempurna. MasyaAllah. Kemudian fakta berikutnya yang saya dapati adalah bahwa hampir sebagian besar masyarakat (jamaah tahlil) tidak melaksanakan Sholat. Bukankah sholat itu tiang agama? Bukankah Sholat itu wajib? Bukankah Sholat itu pesan terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum wafat? Lalu bagaimana bisa mereka kebingungan saat lupa tidak tahlilan, sementara mereka bersantai berleha-leha dan sengaja melupakan waktu sholat? Ada pula yang dengan santainya menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak bisa sholat. Selain itu, saya pun tidak pernah mendengar adzan Dzuhur dan Ashar sejak hari pertama liburan sampai hari ini di mushola dekat rumah.
Ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekitar saya, tetapi juga di keluarga saya. Saya sangat menyadari itu. Ayah saya sangat rajin sholat tapi tidak untuk yang lain. Ketika waktu sholat tiba, saya hanya menangis dan berteriak dalam hati. Saya ingin sholat tapi selalu tak diberi kesempatan (atau mungkin saya yang terlalu meratapi kenyataan, atau mungkin saya yang terlalu larut dalam kebudayaan). Beberapa waktu yang lalu saya ingin keluar untuk berbelanja. Saat itu siang hari dan sinar matahari cukup menyengat. Saya akan pergi mengenakan rok panjang, baju lengan panjang yang besar, dan hendak mengenakan kerudung. Tiba-tiba ibu berkata bahwa hari ini cuaca sangat panas dan beliau malas melihat saya dengan pakaian kebesaran seperti itu. Baiklah tanpa kata—karena percuma saya berkata-kata pun tak akan didengar—saya berganti pakaian super seksi dan enerjik, tanpa kerudung. Astaghfirullah.
Saya benar-benar menyesali apa yang saya tertawakan berjamaah waktu itu. Kini saya mulai menyadari bahwa HTI yang saya kira hanya plesetan itu memang benar-benar ada. HTI yang saya kira salah dengar saat khutbah sholat Idul Fitri itu memang benar-benar terjadi dan nyata. Tapi mengapa yang berkumandang, yang menertawakan, yang melarang justru mereka (kami) yang melakukannya sendiri? Siapa yang sebenarnya bengkok? Siapa yang bobrok? Di sini saya akan sama sekali tidak puas dengan jawaban “Kita serahkan semua pada Allah. Hanya Allah yang tahu kebenaran yang paling benar. Yang penting kita melakukan yang terbaik dan meyakini apa yang kita dan banyak orang yakini.” Salah! Allah telah mengkaruniai kita otak untuk berfikir, hati untuk merasakan, serta utusan untuk menjadi panutan. Oleh karena itu, karena minimnya pengetahuan saya, serta terbatasnya ajaran agama yang “berani” saya pelajari, saya mohon bimbingan dari siapa pun secara bijak.
Entahlah saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Di sini, saya ingin memohon bimbingan siapa saja untuk meluruskan kebengkokan ini. Paling tidak dengan ini saya sudah merasakan sedikit kelegaan. Mohon maaf apabila artikel ini tidak berada pada tempatnya. Mohon kebijakan pemikiran anda sekalian dalam menanggapi masalah ini. terimakasih.