(Malang, Hari ketiga, selesai tepat di waktu Subuh)
Ini bukan fiksi melainkan realiti tanpa ilusi. Akulah Lutfi.
Siang yang benderang—tak kuasa meneteskan peluh-peluh keletihan yang
tergambar jelas dalam wajahnya. Untung saja hamparan taman masih mampu
menghijaukan gairah jiwa. Meski semua mata menyaksikan sepasang bibir di sisi
kirinya, tak ada kalimat yang terucap. Semua mata pun memandang jelas, namun aku
hanya terlukis semu. Semu bagi semua orang, baginya pula. Justru keberadaanku
yang semu tak dinyana mampu menghentikan beberapa detik waktu berlalu.
Seluruhnya tiba-tiba membeku kaku di situ. Jantung, paru-paru, empedu, semua
sekejap tertahan. Tak lama, sang dewa waktu membalikkan suasana. Jantungku
kembali berdetak namun tak berhaluan. Entah apa yang terjadi, apa yang dirasa,
semuanya masih semu hari itu. Berakhir.
Sang maha bintang—masih menyilaukan mata. Panasnya masih membara. Itu yang
kunikmati di bawah tangga D7 Fakultas Sastra. Entah reaksi
kimia apa yang sebenarnya ada, hawa dingin tiba-tiba merasuk sukma. Kanan kiri
kulihat ribuan kaki berlalu-lalang. Hanya sepasang kaki, masih di bawah tangga,
yang tak beranjak. Dari ujungnya, kutarik kedua bola mataku menuju ujung
kepala, dan ahh kurasa jantungku terganggu.
Makan siang—di kantin ekonomi dengan pemandangan boyband-boyband maksa diri
memang menyenangkan. Namun itu dulu sebelum aku bertemu sang semu. Kini lebih
asyik melahap santapan di bawah tangga. Ya, bawah tangga adalah pilihan nikmat
melewati hari. Entah mengapa, setiap kali aku menduduki bawah tangga, aku
merasa ada takdirku di sana. Takdir yang mampu menarik
magnet-magnet mata yang tak dapat lagi berkedip jika ada dia.
Saat itu—aku mulai
menyadari makna kehadirannya. Tepat
di sampingku, hanya terpisah beberapa meter saja. Dia masih dengan lahap
menyantap makan siang. Selalu makan, dan selalu siang. Mungkin inilah takdir.
Karena setahuku, Tuhan tak mampu menciptakan apapun tanpa maksud. Pasti ada
modus dalam setiap takdirnya. Dan aku merasa, dia lah sang “takdir” yang
dikirim Tuhan bersama makan, bersama siang.
Bersama kawan—di sisi sang “takdir”. Aku tak lagi memanggilnya semu karena
aku sekarang tahu bahwa dia nyata. Dia memiliki sepasang bibir merah jambu yang
sangat kontras dengan kulitnya yang terlalu bersih dan rambut keriting
panjangnya. Aku yakin namanya “takdir”. Kami bertemu setiap waktu ketika orang-orang
sedang makan di waktu siang. Ingat, Tuhan punya tujuan.
Sastraswati—memadu kita
membaur dalam satu sastra. Memang
benar saat acara, malam terlalu gelap dan dingin meski lampu-lampu berpijar.
Namun mataku membara, ketika kutahu sang “takdir” memainkan melodi-melodi
kehidupan meski aku tak dapat menemukan syairnya. Jemarinya terlalu lihai
menarikan harmoni-harmoni jiwa dalam perpaduan warna. Aku memang terlalu bodoh
untuk mengerti bahasanya. Tapi setidaknya aku tahu, dia adalah sang “takdir”
dengan topi, bibir merah jambu, kulit bersih dan rambut ikalnya.
Di depan D8—kulihat “takdir”ku berjalan. Beberapa orang berkeliaran dan dia,
dengan senyumnya, bersalaman. Entahlah aku tak percaya, akankah dia sungguh
manusia atau memang utusan dewa. Semua orang mengenalnya, tapi aku tidak. Aku
bahkan tak mampu mengidentifikasi reaksi yang terjadi saat aku di dekatnya.
Setelah dia berlalu dan jantungku kembali berdetak normal, kupanggil seseorang.
“Tori, kenalkah kau pada sang dewa?” Melalui beberapa penjelasan, dengan
kebingungan dia menjawab “Kumal”.
Gazebo sempit—di taman E6 selalu menjadi bahan perdebatan. Prinsip
‘siapa cepat, dia dapat’ selalu lekat padanya. Meski bawah tangga adalah
singgasana terindah bagiku, namun sore itu aku mendapat kesempatan bersama
teman teater untuk menduduki Gazebo. Jantungku tiba-tiba nyeri dan kedua biji
mataku kembali menemukan magnetnya. Kali ini mataku melumpuhkan seluruh indera
dan benar-benar tak mau melewatkan sedikit saja memori tentangnya. Samar
kudengar sahabatku, Wildan, berkata “Namanya …..”
Ingatkah engkau—kepada
embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Dialah satu-satunya nada
yang kukagumi. Siang ini, aku masih di bawah tangga dan selalu menemukan
hadirnya. Namun kali ini telingaku berdengung dan bibirku kaku ketika tiba-tiba
aku dipertontonkan oleh Tuhan kepada pelantun Sebelum Cahaya. Sang “takdir”
menjelma menjadi sosoknya, Mas Noe. Aku pun hampir pingsan karenanya. Kejutaan.
Waktu pun membiru—ketika tak kudapati dia di manapun. Sebelumnya, dia
selalu ada dan terlihat dari- atau di bawah tangga. Satu, dua, tiga jam berlalu
dan aku masih menunggu. Tubuhku membeku meski sesungguhnya terik mentari telah
menyengatku berkali-kali. Setiap ketukan kaki dari manapun berbunyi, selalu
kuamati. Namun nihil. Otakku terpaksa berpikir “Akankah dia membenci
keberadaanku?”
Malam selalu dingin—tapi tak pernah separah ini. Aku sampai tak mampu
memaknai apa yang esok akan terjadi. Jika terus seperti ini, aku bisa mati.
Bukan karena musim ataupun iklim, tapi karena ketidakhadirannya lagi. Akhirnya
aku menggila. Kuibaratkan jejaring sosial satu-satunya yang kupunya menjadi
sosok sang “takdir”. Kukatakan padanya “Jika aku terlalu hina untuk menatap
wajahmu, matamu, hidungmu, bibirmu, sudikanlah dirimu berada di depanku agar
aku setidaknya bisa melihat sisi belakangmu. Apakah kau
keberatan sementara aku bahagia?”
Mimpi—bagiku adalah
dunia kedua yang terlalu nyata. Dan
aku melihat dia di sana. Kuhentikan langkah kakinya, dan kusambut tiba-tiba
kedua tangannya. Kukatakan padanya bahwa aku ingin menyatakan takdirku. Dia pun
menjawab “Aku tau kamu selama ini mengamatiku dan aku pun begitu. Tak perlu
berpura-pura, kita jalani saja takdir bersama.” Dia berlalu, ke depan,
bersamaku. Dia lah kekasihku, takdirku, di dunia keduaku.

Sabtu pagi—masih terlalu dini untuk disebut malam minggu. Seharusnya aku
bangun sebelum jam tujuh dan aku akan melihat sang “takdir” dengan kejutannya,
dan berharap dia membawa kisah kami dalam dunia pertama. Namun nyatanya aku
baru bisa melarikan diri dari dunia keduaku tepat jam tujuh. Dengan segenap
kecerobohan, kulupakan mandi dan makan. Aku berlari menuju sahabatku, Karin, yang
sedari tadi menanti. Sampai di Sasana Budaya, dari kejauhan terdengar lantunan
syair kecintaan yang sebenarnya sama sekali tak kupahami. Namun
jantungku kembali perih.
Siang yang
berkeringat—masih di Sasana Budaya, kuperhatikan sang “takdir”ku. Apapun, kemanapun, dengan siapapun. Kupaksa mereka, agar
dia bisa selalu kunikmati. Namun tiba-tiba temanku, Rendra, memanggilnya dan jujur
bahwa aku ingin dia. Dunia terasa senyap saat tangan kanan kami beradu. Hangat,
erat, dan membungkamkan seluruh hasrat. Beberapa detik tanpa kata, tanpa gerak.
Bahkan mungkin dunia saat itu seketika berhenti dari rotasi dan revolusi sampai
sepenggal kata yang tersendat terucap dari bibirku. “Kenalan” kataku. Dan dia
berkata “Bukan Lutfi”, persis seperti yang kukatakan dalam mimpi, “Bukan Virgo”.
Akhir September—tahun ini masih pagi tapi terlalu singkat untuk tak
berbuat. Setidaknya sekarang kami sudah saling memahami keberadaan
masing-masing. Dia sungguh manusia dan aku masih percaya bahwa kami adalah sepenggal
kisah yang perlu dirangkai dalam takdir. Kuselami seluruh lautan misteri dan
kuhancurkan satu persatu. Apapun kulalui agar bisa lebih lama bersama sang
“takdir”. Entah dunia nyata, dunia maya, aku ingin berada di setiap sisinya,
tidak hanya di belakang, depan, atas, atau bawahnya saja. Persetan apakah
hatinya kini mengaku ada yang memiliki atau tidak, akulah miliknya di dunia
kedua. Tapi
……
Ormawa—rumah kita,
Selasa itu menjadi awal bulan yang penuh sastra (Cerita Segala Rasa). Aku tahu
dia cerdas dengan bahasa asing yang sama sekali asing bagiku. Ditafsirkannya
seluruh bagian yang kuminta, yang mungkin tak disadari, penuh rasa dan makna. Pelan-pelan dengan penuh kehangatan, mengalir beberapa
bulir anak sungai dari kedua mata. Sulit kujelaskan. Entah aku harus bahagia
atau kecewa, aku terlalu dalam menikmatinya. Semua tak berlalu begitu saja
karena aku menyimpan seluruh kejadiannya.
Di atas padang
takdir—D8 lantai dua aku dapat menyeruakkan segala penat. Tak ada yang mengerti
betapa lelahnya hati menanti sang “takdir” menyadari semua ini. Kupikir, setelah
kami mencoba berkomunikasi, kehadiran kami benar-benar bisa dipahami. Namun
rasa berdosa terlalu sesak memenuhi rasa. Dari ini aku ingin dia, suatu saat
atau mungkin hari ini, menyadari bahwa ada hati di sini yang masih menanti sang
“takdir” membawanya dalam dunia pertama segala rasa dari dunia kedua. Sang
“takdir”, aku sama sekali tidak mengagumimu apalagi mengidolakanmu. Rasakan,
aku mencintaimu. Kita harus merajut takdir ini bersama, atau kalau tidak, kita
harus menjadi takdir untuk sepanjang jalan.
Yang
Terdalam,
D. “Luna”
