Sabtu, 25 Februari 2012

Cinta: Keringat dan Darah


Oleh: D. Lutfihtaningrum
  Namaku Diary Luna. Sebelum mereka menjadikan aku puing-puing kelabu, aku ingin bercerita. Ya, bercerita bagaimana abu-abunya sahabatku, Luna. Dia lah sahabat pertamaku dan selamanya.

  Aku mengenal Luna sejak ulang tahunnya yang ke 17. Kekasihnya, Adira memberi buku harian sebagai kado untuknya. Itulah aku. Setahuku, Adira dan Luna adalah pasangan yang saling mencintai, dan keduanya sama-sama saling melengkapi. Aku pikir, kehidupan Luna cukup bahagia. Meski ia tak mendapat kasih sayang seorang ibu sejak 10 tahun yang lalu, tapi ia masih punya ayah yang menyayanginya, dan kekasih yang mencintainya.
***
  “Kata ayah, dia tak punya masa depan yang cukup baik. Dia tidak baik untukku. Ya Tuhan, aku hanya ingin masa depan yang bahagia. Dan aku bahagia dengannya.”, tulis Luna.

  Andai aku bisa, ku ingin membelai dan menghapus air matanya. Syukurlah setelah menuliskan semuanya ia segara tertidur. Huhh manusia…
***
  Malam ini aku melihat Luna hanya berdiam diri di kamar. Seribu waktu terkikis bungkam. Kupanggil-panggil dia. Berharap dia menuliskan sesuatu agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Atau paling tidak aku bisa meringankan bebannya, seperti yang pernah dikatakan oleh Adira, bahwa aku ada untuk meringankan beban seseorang. Tapi aku hanyalah benda mati. Teriakanku tak akan pernah bisa menembus gendang telinga siapa pun.

  Hari-hari terus berganti. Tak kulihat Luna beranjak dari tempatnya. Aku cemas dia sakit. Wajahnya pucat memendam kepedihan yang mendalam. Tak pernah kulihat ayahnya menjenguk Luna. Adira, sepertinya ia sedang tidur pulas karena terlalu lelah memadu kasih. Tapi Aneh. Semua terasa aneh dan aku semakin ingin tahu apa yang yang sebenarnya terjadi. Mengapa Luna hanya terkulai diam di lantai, dengan pisau yang tak lekang dari tangannya.
***
  Beberapa waktu yang lalu, sempat ku dengar kegaduhan dalam rumah. Ya. Kegaduhan itu terjadi sebelum Luna dingin dan terdiam.
  “Luna, lihat siapa dirimu! Kau tak seharusnya menghabiskan waktumu hanya untuk jadi budak cintanya!”

“Tapi saya…….”

Tak ada kata-kata lagi yang kudengar setelah suara tangan seorang ayah menari, melayang, kemudian jatuh mengenai pipi. Aku lega, kebisingan serta merta lenyap. Namun tak berselang menit, Luna menghampiriku dengan pipi dan mata basah yang memerah. Ia diam menahan isaknya.

“Baiklah ayah, aku mencintaimu dan Adira. Tapi katamu, engkau yang terlebih dulu mencintaiku. Kemudian Adira. Kata ibu, cinta butuh setetes keringat dan darah...”

Setelah tinta merah itu tergores di halamanku, berhari-hari Luna mengabaikan aku. Sesekali ia menghampiri meja tapi tidak untuk menulis. Hanya mengelus sosok pipih yang mengkilat tajam. Setiap hari ia jenguk benda itu dari laci dengan senyum bangga seolah ia mendapat pusaka buatan mpu sakti yang siap mencari tumbal.

Satu, dua, tiga minggu berlalu. Sejak aku mendengar jerit tangis dan lantunan Surat Yasin dari ruang tamu kemarin, tak kulihat lagi Luna membanggakan benda mengkilatnya. Terakhir aku melihat, ia membersihkan benda mengkilatnya yang memerah dan berbau amis.

“Cinta butuh setetes keringat dan darah. Dan aku telah membuktikan dengan diriku sendiri bahwa aku mencintai ayah.” Ucap luna seraya menciumi benda itu.
***
Pagi ini aku cukup lega. Luna terbangun dengan senyum mengembang dan wajah berseri. Entah mahluk apa yang merasuki jiwanya, tapi aku lega. Aku lega ia mau bangkit dan membersihkan ruangannya. Ohh bukan ruangannya. Tapi seluruh ruangan di rumahnya, sendirian. Kemudian ia menghampiriku dan masih berbinar.

“Hari ini, aku akan mengungkapkan betapa aku mencintai kekasihku, Adira. Akan ku serahkan semuanya. Uang, rumah, pekerjaan, tubuhku, jiwa, raga, dan terakhir, cintaku.”

Matahari rupanya enggan berlama-lama menggantung di langit. Dewi malam terlihat berbinar bak memberi dukungan pada Luna. Aku pun bahagia. Aku bahagia, akhirnya kulihat senyum Luna mengembang berbunga-bunga hingga menciptakan wangi erotik yang sempurna. Aku yakin siapa pun pasti ingin berlama-lama di sini. Itu belum seberapa. Seandainya aku memiliki jantung, maka jantungku akan berdetak tak berhaluan melihat Luna bergaun putih tipis yang hanya mampu menutupi sebagian tubuhnya. Oh tidak. Tidak menutupi karena siapa pun masih bisa melihat keindahan dan putih tubuhnya. Luna, gadis 17 tahun nan pendiam serta lugu, malam ini terlihat bak pengantin yang hendak membelah bulan.

Waktu berdentang. Aku tak mendengar pintu terketuk atau pun bel yang menjerit. Namun sosok Adira telah berdiri di depanku bersama Luna. Mereka hanya berdua. Ahh aku melihat Adira begitu tampan pula hari ini. Dan mereka berdua, berpeluk erat demi menghabiskan segala beban kerinduan.

Kata-kata cinta terungkap dari bibir tipis Adira seraya membelai rambut kekasihnya. Luna tersenyum dan membalas ungkapannya.

“Terima kasih sayang, kau telah memberikan segalanya. Kau telah persiapkan semuanya kan? Sertifikat rumah, tanah, perusahaan, surat-surat berharga, perhiasaa…”

Belum lengkap kata-kata Adira, Luna tiba-tiba menghentikan tarian bibir Adira dengan telunjuk lembutnya. Luna mengangguk dan Adira mencumbunya puas. Ruangan ini, kini gelap. Aku hanya mampu mendengar tawa dan desahan dari keduanya. Aku ingin berteriak menghentikan suara itu. Aku tau bahwa tak pernah ada janji atau pun saksi yang mengikat mereka. Aku terus dan terus mendengar bualan cinta diselingi desah dan tawa. Tapi apa lah dayaku. Tak ada yang mampu mendengarku.

Beberapa kali jam berdenting. Masih dalam kegelapan, aku melihat sosok dalam kegelapan bangkit dari tempat tidur. Semakin lama, semakin aku mencium bau keringat seorang wanita. Aku gemetar saat jemari kecilnya menggenggam erat sosok mengkilat. Tak harus menunggu lama, aku kemudian mendengar Laki-laki meronta dan menjerit. Aku tak mengerti mengapa bualan cinta, desah kenikmatan, dan tawa kepuasan tiba-tiba tergantikan. Tapi kemudian suasana kembali hening.

 Aku harap aku bermimpi. Tapi aku tak pernah sekali pun tertidur bahkan terkantuk. Saat neon kembali menyala, aku tak lagi melihat Adira. Hanya Luna dan bau amis di ruang itu. Mungkin Adira masih tertidur pulas, kelelahan.
Luna berdiri di depanku bersama sosok mengkilatnya yang kembali memerah.

“Rupanya kau masih seperkasa dulu.” Ungkap Luna entah untuk benda mengkilat atau kekasihnya.

“Adira sayang, cinta butuh setetes keringat dan darah.”, tambahnya sambil memandang ke arah kekasihnya.

Kemudian kalimat terakhir yang mampu kudengar darinya, “Kata ibu, aku juga harus mencintai diriku sendiri. baiklah…”

Setelah itu lah aku tak pernah melihat Luna bangkit dari tempatnya. Seperti yang aku bilang tadi, wajahnya pucat dengan tubuh terkulai di lantai. Tetap di lantai sampai hari ini. Sendirian. Benda mengkilatnya telah tertancap dalam hatinya, berteman dengan cinta, keringat, dan darahnya. bukan, bukan hanya dia. tapi juga ayah dan kekasihnya. Cinta butuh setetes keringat dan darah.

*Tamat*