Rabu, 18 November 2015

Pengakuan (dosa) Luna

Tak sanggup berkata apa-apa.

Selamat menyaksikan saja!

Rabu, 04 November 2015

Sepotong Rembulan Bagi Sang Pungguk

Pagi selalu menyingkap tirai-tirai tipis di balik jendela. Udara dingin dan wangi rerumputan basah menyergap, memaksa masuk lewat celah-celah kecil di sekeliling rumah. Perlahan kukerjapkan kedua mataku, memaksaku mengusaikan rerangkaian mimpi yang selalu kulupakan alurnya. Pagi ini dingin, dingin sebab hati yang biasa menghangati telah pergi entah kemana. Terpaksa kulangkahkan kakiku, menekuri lantai koridor yang juga dingin, memasuki kamar mandi yang juga dingin, hingga aku terduduk di kursi meja makan yang dingin pula. Kugenggam piring, sendok, dan segala perabotan makan lainnya yang dingin pula. kutelan gumpalan nasi, beberapa keping lauk beserta sayur mayurnya, lalu kuteguk susu sapi putih dalam gelas dingin. Segalanya dingin. Kau tahu, ini bukan musim dingin. Sungguh yang dingin hanyalah aku dan seluruh yang kusentuh.

Lantang kudengar nyinyir nyanyian alam merdu suarakan isyarat hati yang tak terobati. Aku, bersama tikus-tikus kecil penghuni loteng kamarku, mencoba menutup telinga rapat-rapat. Terlalu nyinyir kudengar keluhan-keluhan alam yang sesekali mencemooh hidup seseorang. "Tak bisakah alam melantunkan melodi-melodi ketenangan?" Keluhku pada tikus-tikus itu yang kurasa percuma. Mereka hanya tahu tentang makanan dan beranak pinak. Kuselami hari itu hanya dengan berdansa bersama mereka di dalam kamarku, sembari menutup telinga dan pintu rapat-rapat agar alam tak sedikitpun mampu mengusik kami.
Source: http://tom-kuu.blogspot.co.id/2015/02/have-courage-be-kind-tale-of-cinderella.html


Sejak pagi hingga sore hari aku menari. Menggoyangkan irama-irama penuh cinta, meski hanya dengan para tikus kecil penghuni loteng kamarku. Aku cukup bahagia, karena setidaknya aku bisa lupa bahwa tadi aku merasakan dingin yang luar biasa pada seluruh yang kusentuh. Bahkan aku tak peduli berapa ekor tikus yang telah mati membeku setelah berdansa, menyentuh tangan dan tubuhku. Diberkati Tuhan, jiwa-jiwa sucimu, Tikus.

Kini segala kembali hampa. Tikus-tikus mati, kehabisan nafas, dan sebagian lainnya kelelahan. Mentari pun enggan bertahan lebih lama lagi menyinari bumi. Alam pun sepertinya telah lelah berdendang. Gemericik air mengalir kini terhenti. Angin yang sedari pagi membawa rangkaian busuk melati, kini tak kurasakan hembusannya lagi. Dingin, hampa. Hanya dua rasa yang sanggup kupahami seiring gelapnya pandangan mata.

Aku benar-benar sendiri. Bayanganku yang biasanya mengikuti kemana langkahku pergi pun telah tiada. Sorotan mata yang biasa membidikku dari segala penjuru juga telah terpejam. Tubuh-tubuh yang biasa mengoyak jiwa ragaku, segalanya terbaring kaku dalam peristirahatan. Sesuatu mengalir dari mataku. Entah ini air, nanah, atau darah. Aku hilang arah. Kusadari di tiap sudut ruang ini tak lagi ada apa dan siapa. Segalanya sirna, menghilang tak tersisa.
Source: http://www.infokost.net/tip/gaya_hidup/empati-cegah-depresi


Benar-benar gelap kurasakan. Entah karena tak ada satupun yang berpijar, atau mataku yang tak lagi sanggup terbuka. Namun kurasa kedua kelopak mataku sungguh masih terbuka. Mungkin karena memang telah tiada apa dan siapa di sini. Aku menunduk, menghayati bulir-bulir yang membasahi wajahku. Kurasa seluruh inderaku telah lumpuh. Mataku tak mampu menatap apapun, telingaku tak menangkap suara apapun, hidungku, kurasa tak lagi mencium ataupun menghembuskan apapun, mulutku tak mengecap apapun, apalagi kulitku, ia sama sekali tak merasakan apapun. Persetan dengan semua yang terjadi. akankah aku telah mati? Neraka kah ini?

Pelan, kupaksa kedua kakiku melangkah ke depan. Entah kemana, mataku tak mampu menatapnya. hanya ke depan saja, dan tak kutemui apapun yang berusaha menghalangi atau menghentikan langkahku. Hingga batinku kemudian menjerit, mengisyaratkanku untuk menghentikan langkahku sejenak. Namun aku tak menghirau. Tetap kutapakkan kakiku yang kurasa ngilu karena tak beralaskan apapun, langkah demi langkah. Batin terus menjerit, memintaku berhenti. Peluh bercampur air mata, dan segala kehampaan kemudian membaur, bersatu padu dengan batinku yang terus saja memintaku berhenti. Hingga akhirnya seluruh sendi, tulang, maupun otot kakiku menyerah. aku terjatuh, tersungkur di atas bumi nan basah.
Source: http://mas.aryta.net/

Inderaku membujukku agar tenang. Perlahan mataku dapat menangkap cahaya dari kejauhan. Hidungku mulai kembali menghirup lembut aroma tanah basah. Kemudian telingaku berdenging, mengisyaratkan bahwa ia masih dapat digunakan jika ada gelombang suara yang lewat. Sementara kulitku kembali merasakan kehangatan yang amat nyaman di sini. Meski mulutku masih terasa pahit dan kaku, namun bahagiaku telah tercukupi dengan kehangatan ini. Mungkin hangat yang kurasa ini berasal dari cahaya yang jauh di sana, pikirku. Mungkinkah itu surga? Meski kakiku masih lumpuh, kupaksa tubuhku merangkak, menuju cahaya, ahh tidak, menuju surga!
Source: https://www.facebook.com/lutfihta.dechyl

Semakin lama, ia nampak semakin besar, semakin indah, sempurna. Wewangian lembut semakin merasuk memenuhi paru-paru, hingga aku tak peduli bagaimana rupa tubuhku kini. Aku masih merangak, dan akan terus merangkak menujunya. Cahaya surga dengan segala kehangatan dan wewangiannya. Cahaya surga yang membuat segala inderaku kembali berfungsi. Ohh cahaya surga yang kucintai. Ya, aku mencintai cahaya surga ini, dan walau aku telah tak punya kaki, langkah ini tak akan terhenti. Cahaya surga, aku menujumu.

Waktu demi waktu terus berlalu. Entah telah berapa lama aku merangkak, aku tak peduli. Semakin lama, semakin kurasa hangatnya sang cahaya surga. Aku pun lebih tak peduli dimana kakiku telah tertinggal tadi. Saat kutoleh sesekali ke belakang, tubuhku perlahan berkurang. Berawal dari kaki, telapak tanganku, lalu lengan, dan satu persatu organ dalam perutku tak lagi menyatu, terbungkus. Ahh aku tak peduli. Aku hanya mau menuju cahaya surga yang jauh itu. Hangatnya, lembut harumnya, tak ada lagi yang lebih kuhiraukan melainkan keduanya. Aku tetap merangkak, merangkak, dan terus merangkak, hingga kusadari, aku tak lagi merangkak. Aku kini telah menggelinding. Ya, aku yang kini hanya terdiri dari dua bola mata yang tiada lagi berkedip. Aku menggelinding, meluncur, masih menuju cahaya syurga nan jauh di sana. Lalu, ohh tidak! Apa yang terjadi?

Lantang kudengar nyinyir nyanyian alam merdu suarakan isyarat hati yang tak terobati. Terlalu nyinyir kudengar keluhan-keluhan alam yang sesekali mencemooh hidup seseorang. Rembulanpun menghilang, tergantikan bara mentari untuk selama-lamanya...