Oleh: D. Lutfihtaningrum
Mengingat seratus hari yang lalu, saat kami mendapat teman baru di kosan. Ia bernama Khoirun Nisa’. Mahasiswa teknik kimia semester 7 di sebuah universitas dekat kosanku.
Aku dan Tere, teman sekamarku membantu Tante Maria untuk membereskan kamar kosong yang akan ditempati oleh mbak Nisa. Kebetulan di kosan memang sedang sepi. Syfa, Rosyta, Dea, mbak Ayu dan mbak Eky sedang pulang kampung. Jadilah aku dan Tere yang harus capek sendiri.
“Besok mbak Nisa mulai kos di sini. Bersikaplah ramah pada teman baru kalian dan buat dia betah di sini!” kata tante Maria seraya meninggalkan kamar yang sudah bersih dan rapi. Aku dan Tere hanya mengangguk lalu menyusul tante Maria.
“Hai, mbak Nisa ya?” sapaku melihat sesosok gadis cantik duduk di atas dipan kamar yang kemarin kami bersihkan. “Iya. Aku Nisa, penghuni baru kamar ini.” Kami pun berkenalan dan bercakap-cakap ria tentang segala hal mengenai kos-kosan ini. Semua berjalan normal. Aku pikir, mbak Nisa adalah teman yang asyik. Aku tidak perlu takut kehabisan bahan untuk dibicarakan dengannya.
Satu persatu anak-anak kos juga mulai berdatangan. Mereka menyadari kalau mbak Nisa masih baru di sini dan dia pasti malu untuk memulai perkenalan. Apalagi dia sekamar sendirian. Akhirnya mereka yang ngalah. mereka pun berbondong-bondong mangunjungi kamar mbak Nisa untuk berkenalan. Dan sampai beberapa hari ke depan, semua masih berjalan normal.
Sampai pada suatu sore, saat aku, Tere, Syfa, dan Rosyta sedang menghayati drama Korea di tv. Saat itu memang sedang gencar-gancarnya film Korea. Ku lirik mata Rosyta dan Syfa sembab katanya sih terharu dengan adegan-adegan tuh film. Tiba-tiba…..
“TIDAAAAAK…. HAPEKU….”, teriak mbak Nisa dari kamar. Kami pun sontak langsung berlari menghampiri sumber suara. Hapenya mbak Nisa hilang. Katanya sih tadi ditaruh di atas meja trus tiba-tiba menghilang. “Masak sih hape bisa jalan?” celetuk Tere yang memang terkenal ceplas-ceplos. “Enggak. Pasti ada maling deh. Aku yakin.” Mbak Nisa melakukan pembelaan. Tapi selama hampir satu tahun aku kos di sini, semua aman terkendali. Jangankan maling, tikus aja nggak pernak aku jumpai. Daripada buang waktu untuk berdebat, kami mulai mengobrak-abrik seisi kamar mbak Nisa.
“Tiiiit tiiiit…. Tiiiit tiiiiit….”
“What? Bukannya itu suara hape mbak Nisa?”, respon Rosyta mendengar suara itu.
“Suaranya dari dalam tas putih itu!”, jawab Syfa menunjuk tas yang ada di atas meja.
Sambil cengar-cengir mbak Nisa mengambil hapenya dari dalam tas puth itu. “Hehehe…. Maaf ya teman-teman. Ternyata di dalam tas. Aku lupa.” Sejak kejadian itulah kami mengubah nama panggilan mbak Nisa menjadi mbak Uun. Siapa suruh jadi orang pikun.
Hari ini aku pulang kuliah lebih awal. Saat aku berjalan ke kamar, kulihat mbak Uun mondar-mandir kebingungan. Kuhampiri dia dan aku bertanya sedang apakah gerangan si dia. Ternyata kali ini dia kebingungan mencari sepatu putih yang katanya baru dibeli kemarin. Aku sudah capek meladeni mbak Nisa. Bukan hal baru lagi bagiku dan anak kos lainnya melihat mbak Nisa kebingungan mencari sesuatu. Mulai dari sendok, piring, jemuran, buku, kunci kamar, hingga pensil yang nyata-nyata sedang ada di genggamannya pun dicari. Dan sekarang aku hanya berkata “Coba diingat-ingat dulu tadi ditaruh di mana.” kemudian aku pergi ke kamar dan meninggalkannya.
Aku dan teman-teman kosan mulai heran dengan kelakuan mbak Uun yang semakin menjadi-jadi. Apakah mungkin dia mengalami penuaan dini sehingga mengalami kepikunan lebih cepat? Atau mungkin dia stress dengan jurusan teknik kimia yang sedang ditempuhnya? Tapi pertanyaan itu enggan aku teruskan karena aku pikir setiap orang punya jalannya masing-masing.
Lama-kelamaan kami mulai terbiasa dan memaklumi tingkah mbak Uun yang pikun stadium akut itu. Saat dia sedang mencari sesuatu, kami sering meledeknya, “Cari saja di toko, mbak. Banyak dan masih baru pula!”. Mbak Uun pun hanya tersenyum dan kembali berusaha mencari.
Keanehan sikap mbak Uun semakin membingungkan. Sekarang dia membatasi pergaulan dengan kami. Awalnya sih kami senang karena tidak perlu direpotkan lagi dengan kepikunannya. Tapi lama-lama kami curiga. Tidak hanya itu, sekarang mbak Uun juga merubah penampilannya menjadi seorang Jilbaber. Padahal dulu celana pensil dan kaos ‘you can see’ tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bahkan sekarang di kamar pun dia tak pernah terlepas dari jilbab. Saat aku tanya, dia hanya bilang kalau udah tobat. Pengen jadi hamba Allah yang taat. Aduh jangan-jangan mbak Uun jadi korban cuci otak. Tapi mau bagaimana lagi. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah keputusannya dan dia mulai tertutup pada kami.
Hari demi hari kujalani masih dengan penuh kemisteriusan mbak Uun. Dia jadi jarang keluar kamar. Paling dia keluar hanya untuk mandi, wudhu, kuliah, dan makan. Pintu kamarnya pun tidak pernah terbuka. Suasananya hening seperti tak berpenghuni. Tak ada teriakan dan sosok kebingungan mencari sesuatu lagi. Bahkan mbak Uun hanya melempar senyum kecil saat berpapasan dengan kami. Sejak itu kami tidak pernah meledekinya lagi. Pokoknya antara kami dan mbak Uun seperti sudah berbeda dunia. Kami juga takut sih sebenarnya dekat-dekat dengan mbak Uun yang diduga kuat menjadi korban cuci otak.
Sore ini kami berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan masalah rencana liburan semester genap yang akan kami tempuh. Rosyta sih katanya mau ke Bali buat hunting foto sama bule. Syfa katanya juga mau ke Jogja buat hunting baju batik. Dea juga tak mau kalah. Dia mau ke pulau natal di Australia sana buat relaksasi dan menikmati natural beach (aduh nggak penting banget deh). Kalau mbak Ayu dan mbak Eky katanya liburan ini mau habisin waktu di rumah saja. Ya emang mereka berdua itu sudah semester tua dan mungkin udah tobat buat hura-hura. *hehehe piss mbak. Kali ini aku dan Tere hanya jadi pendengar setia. Soalnya memang kami tak punya rencana mau kemana dan ngapain liburan kali ini. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada mbak Uun di antara kami. Dia lebih memilih tadarus atau tidur daripada ngobrol gak jelas macam kami.
“Mbak Uun… aku pinjam mukena dong.. Mukenaku belum kering nih…” panggil Tere di depan kamar mbak Uun. Dia mengetuk-ngetuk pintu laksana maling yang dikejar hansip. Soalnya sudah jam 5 sore tapi dia belum juga sholat Ashar. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Tanpa pikir panjang, Tere langsung membuka pintu dan masuk. Dia shock berat melihat mbak Uun yang sedang tidur dengan jilbab yang sedikit menyilak ke atas memperlihatkan kepala mbak Uun. Dia segera lari ke kamar dan bercerita padaku. Katanya mbak Uun gak punya rambut alias botak. Mendengar ceritanya, aku tertawa terbahak-bahak tak percaya. “Kamu nglindur ya? Mbak Uun lo rambutnya lebat, hitam, dan berkilau.”, kataku sampil mengkibas-kibaskan rambutku bak iklan shampo. “Ya udah deh. Mungkin emang halusinasiku aja ya.” Jawab Tere pasrah.
“Libur tlah tiba…. Libur tlah tiba…. Hatiku gembira…” sambut anak-anak kos di hari terakhir masuk kuliah. Sore itu kami bersama-sama packing untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kampung halaman besok. Begitu pula mbak Uun. Kulihat dia sibuk membereskan baju-bajunya yang sebagian besar berwarna putih ke dalam ranselnya. Setelah aku selesai beres-beres, aku mencoba memberanikan diri menghampiri mbak Uun. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tiba-tiba menyalami mbak Uun yang saat itu menggunakan baju serba putih. Kubantu dia membereskan kamarnya dan kutawari dia sebungkus biskuit. Dia menolak. “Maaf. Hari ini aku puasa, dik. Maaf ya..”
Pagi pun tiba, anak-anak kos berkumpul dan berpamitan pada tante Maria. Suasana di ruang tengah ramai dengan celoteh kami yang saling berpamitan. Kami saling berpelukan, cipika-cipiki, salam-salaman, dan cubit-cubitan. Terang saja selama tiga bulan kedepan kami akan berpisah. Di tengah keramaian itu, kulihat mbak Uun menyalami tante Maria dengan ucapan maaf. Aku merasa aneh dengan mbak Uun. Dari kemarin yang diucapkan hanya maaf melulu. Saat berpamitan pada pada kami, dia juga berkali-kali mengucap maaf. “Aduh mbak kayak mau mati aja deh.. kok minta maaf melelu sih..”, ledek Rosyta. Mbak Uun hanya tersenyum mendengar ledekan Rosyta dudul itu.
Satu persatu anak-anak mulai meninggalkan kosan. Tinggal aku dan mbak Uun yang masih galau menunggu jemputan. Aku yang dasarnya penakut dan anti banget sama yang namanya sendirian, meminta mbak Uun untuk menemaniku. Di dalam kamar, aku bingung mau ngomong apa. Kulihat mbak Uun dari tadi berdiri di depan kaca memandangi dirinya sendiri. “Udah cantik kok mbak.. Eeh tapi kulihat-lihat mbak Uun kok tambah putih ya? Matanya juga kok jadi sipit gitu sih… hayoo jangan-jangan operasi plastik ya? Hehehehe” ledekku. Lagi-lagi mbak Uun hanya menanggapi dengan senyum.
Satu, dua, tiga jam pun berlalu. Aku hanya terdiam di kamar dengan mbak Uun yang dari tadi ngaca melulu. Sampai hapeku berdering tanda ada SMS, akhirnya aku berpamitan pada mbak Uun karena ayahku tercinta sudah menanti di depan. Mbak Uun pun mengantarku ke depan. Dia tersenyum pada ayahku. Kulihat dia mengantarkanku dengan raut kesedihan yang mendalam. Pikirku, “aduh lebay juga ya mbak Uun ini. Tadi sebelum aku dijemput, aku dianggurin gak diajak bicara. Giliran aku dijemput, dia sedih gitu. Iih…”
Di tengah perjalanan, hapeku kembali berdering. Kulihat SMS masuk dari tante Maria. Tumben bangen tuh tante SMS aku. Belum sempat kubaca, dia malah meneleponku. Tapi suaranya gak jelas banget soalnya aku keadaan sedang di jalan. Hanya kata “mbak Uun” yang berhasil aku tangkap dengan jelas di pendengaranku. Akhirnya kumatikan telepon tante Maria. Kubuka SMSnya dan…
Luna, Uun meninggal.
Tolongin tante.Tante bingung harus gimana.
Barusan orang tuanya udah aku kabarin..
Kamu bisa balik nggak?
Terang saja aku langsung shock membaca SMS itu. Kuminta ayah berhenti dan balik ke kosan. Suasana kosan ramai oleh para tetangga, polisi, ambulance, dan beberapa keluarga mbak Uun. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku menerobos diantara kerumunan itu dan masuk kosan. Kulihat teman-teman kosan semua menangis pilu. Kuabaikan mereka dan aku mencari tante Maria. Di ruang tengah, aku mendapati orang tua mbak Uun dan Tante Maria dengan segala kepiluan. Kulihat wajah mbak Uun tersenyum di tengah tangisan mereka. Aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka hanya menangis dan tiba-tiba semua kurasa hening, gelap.
Pagi ini, aku dan teman-teman kosan berniat membantu tante Maria membereskan kamar almarhumah mbak Uun. Saat itu aku membereskan buku-buku yang ada di meja untuk kumasukkan ke kardus besar yang katanya akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Kuambil buku bersampul putih dengan gambar mutiara dan seekor kupu-kupu cantik. Judul bukunya “My Wish to be Live”. Kusisihkan buku itu demi memenuhi hasrat penasaranku. Kutemukan pula map cokelat di bawah tumpukan buku-buku besar. Kuambil pula map itu demi menjawab rasa penasaranku. Dan kembali kumasukkan buku-buku lainnya ke dalam kardus.
Malam harinya, aku bercerita pada Tere tentang buku dan map itu. Rasa penasaran terhadap buku itu membuatku membuka lembar demi lembar. ternyata buku itu adalah diary almarhumah mbak Uun. Dalam buku dan map cokelat itu akhirnya kutemukan jawaban atas keanehan sikap mbak Uun selama ini. Kutemukan pula jawaban atas apa yang pernah Tere lihat sore itu. Map cokelat yang ternyata berisi surat dokter, hasil pengobatan, dan hasil ronsen telah menjawab semuanya. Aku tahu semuanya lewat buku putih itu juga. Ternyata selama ini mbak Uun menyimpan sakitnya. Ia tak punya cukup biaya untuk berobat. Alasan lain, karena ia tak mau merepotkan siapapun. Aku cukup shock dengan tulisan mbak Uun…
Desember ‘11
Aku tahu ini berat bagiku. Sebagai seorang penderita kanker otak, aku harus menahan sakitku ini sendirian. Percuma aku mengabarkan pada semua orang karena mereka pun toh juga tidak dapat menyembuhkanku. Aku tak mau mereka sedih karana aku tahu mereka semua menyayangiku.
Akhir Bulan yang indah ‘11
Hari ini aku menghentikan semuanya. Biarlah nanti aku tidur dalam damainya sakit ini. Allah, setidaknya hamba sudah berusaha dengan mencatat semuanya, mencukupkan istirahat dan doa, serta aku pun sudah menghabiskan seluruh tabungan untuk berobat. Sekarang saatnya aku pasrah bila Engkau mengambilku…
Tulisan terkahirku ‘11
Malam ini aku menari bersama malaikat yang akan menjemputku esok. Terimakasih Tuhan.. Atas kesempatan hidup yang telah banyak Engkau berikan. Aku akan damai dalam pelukan kasih-Mu…
Dan benar itulah tulisan terakhir mbak Uun dalam buku putih itu. Subhanallah ternyata selama ini yang kupikirkan tentang mbak Uun salah besar. Maafkan aku mbak Uun. Semoga kau tenang di sana. Tidurlah dalam damaimu dan menarilah bersama malaikat-malaikat kecil yang akan menghapus segala sakitmu. Maafkan aku. Aku menyayangimu.. Kututup buku itu bersama kenanganku dengan mbak Uun dengan penuh sesal.
***End***
Other keywords: Cerpen kehidupan, tulisan seorang cerpenis, contoh cerpen, cerpen penyesalan