Selasa, 27 Desember 2011

TIDURLAH DALAM DAMAI MBAK UUN NAN PIKUN



Oleh: D. Lutfihtaningrum
Mengingat seratus hari yang lalu, saat kami mendapat teman baru di kosan. Ia bernama Khoirun Nisa’. Mahasiswa teknik kimia semester 7 di sebuah universitas dekat kosanku.

Aku dan Tere, teman sekamarku membantu Tante Maria untuk membereskan kamar kosong yang akan ditempati oleh mbak Nisa. Kebetulan di kosan memang sedang sepi. Syfa, Rosyta, Dea, mbak Ayu dan mbak Eky sedang pulang kampung. Jadilah aku dan Tere yang harus capek sendiri.

“Besok mbak Nisa mulai kos di sini. Bersikaplah ramah pada teman baru kalian dan buat dia betah di sini!” kata tante Maria seraya meninggalkan kamar yang sudah bersih dan rapi. Aku dan Tere hanya mengangguk lalu menyusul tante Maria.
“Hai, mbak Nisa ya?” sapaku melihat sesosok gadis cantik duduk di atas dipan kamar yang kemarin kami bersihkan. “Iya. Aku Nisa, penghuni baru kamar ini.” Kami pun berkenalan dan bercakap-cakap ria tentang segala hal mengenai kos-kosan ini. Semua berjalan normal. Aku pikir, mbak Nisa adalah teman yang asyik. Aku tidak perlu takut kehabisan bahan untuk dibicarakan dengannya.

Satu persatu anak-anak kos juga mulai berdatangan. Mereka menyadari kalau mbak Nisa masih baru di sini dan dia pasti malu untuk memulai perkenalan. Apalagi dia sekamar sendirian. Akhirnya mereka yang ngalah. mereka pun berbondong-bondong mangunjungi kamar mbak Nisa untuk berkenalan. Dan sampai beberapa hari ke depan, semua masih berjalan normal.

Sampai pada suatu sore, saat aku, Tere, Syfa, dan Rosyta sedang menghayati drama Korea di tv. Saat itu memang sedang gencar-gancarnya film Korea. Ku lirik mata Rosyta dan Syfa sembab katanya sih terharu dengan adegan-adegan tuh film. Tiba-tiba…..

“TIDAAAAAK…. HAPEKU….”, teriak mbak Nisa dari kamar. Kami pun sontak langsung berlari menghampiri sumber suara. Hapenya mbak Nisa hilang. Katanya sih tadi ditaruh di atas meja trus tiba-tiba menghilang. “Masak sih hape bisa jalan?” celetuk Tere yang memang terkenal ceplas-ceplos. “Enggak. Pasti ada maling deh. Aku yakin.” Mbak Nisa melakukan pembelaan. Tapi selama hampir satu tahun aku kos di sini, semua aman terkendali. Jangankan maling, tikus aja nggak pernak aku jumpai. Daripada buang waktu untuk berdebat, kami mulai mengobrak-abrik seisi kamar mbak Nisa.

“Tiiiit tiiiit…. Tiiiit tiiiiit….”
“What? Bukannya itu suara hape mbak Nisa?”, respon Rosyta mendengar suara itu.
“Suaranya dari dalam tas putih itu!”, jawab Syfa menunjuk tas yang ada di atas meja.
Sambil cengar-cengir mbak Nisa mengambil hapenya dari dalam tas puth itu. “Hehehe…. Maaf ya teman-teman. Ternyata di dalam tas. Aku lupa.” Sejak kejadian itulah kami mengubah nama panggilan mbak Nisa menjadi mbak Uun. Siapa suruh jadi orang pikun.
Hari ini aku pulang kuliah lebih awal. Saat aku berjalan ke kamar, kulihat mbak Uun mondar-mandir kebingungan. Kuhampiri dia dan aku bertanya sedang apakah gerangan si dia. Ternyata kali ini dia kebingungan mencari sepatu putih yang katanya baru dibeli kemarin. Aku sudah capek meladeni mbak Nisa. Bukan hal baru lagi bagiku dan anak kos lainnya melihat mbak Nisa kebingungan mencari sesuatu. Mulai dari sendok, piring, jemuran, buku, kunci kamar, hingga pensil yang nyata-nyata sedang ada di genggamannya pun dicari. Dan sekarang aku hanya berkata “Coba diingat-ingat dulu tadi ditaruh di mana.” kemudian aku pergi ke kamar dan meninggalkannya.

Aku dan teman-teman kosan mulai heran dengan kelakuan mbak Uun yang semakin menjadi-jadi. Apakah mungkin dia mengalami penuaan dini sehingga mengalami kepikunan lebih cepat? Atau mungkin dia stress dengan jurusan teknik kimia yang sedang ditempuhnya? Tapi pertanyaan itu enggan aku teruskan karena aku pikir setiap orang punya jalannya masing-masing.

Lama-kelamaan kami mulai terbiasa dan memaklumi tingkah mbak Uun yang pikun stadium akut itu. Saat dia sedang mencari sesuatu, kami sering meledeknya, “Cari saja di toko, mbak. Banyak dan masih baru pula!”. Mbak Uun pun hanya tersenyum dan kembali berusaha mencari.

Keanehan sikap mbak Uun semakin membingungkan. Sekarang dia membatasi pergaulan dengan kami. Awalnya sih kami senang karena tidak perlu direpotkan lagi dengan kepikunannya. Tapi lama-lama kami curiga. Tidak hanya itu, sekarang mbak Uun juga merubah penampilannya menjadi seorang Jilbaber. Padahal dulu celana pensil dan kaos ‘you can see’ tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bahkan sekarang di kamar pun dia tak pernah terlepas dari jilbab. Saat aku tanya, dia hanya bilang kalau udah tobat. Pengen jadi hamba Allah yang taat. Aduh jangan-jangan mbak Uun jadi korban cuci otak. Tapi mau bagaimana lagi. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah keputusannya dan dia mulai tertutup pada kami.

Hari demi hari kujalani masih dengan penuh kemisteriusan mbak Uun. Dia jadi jarang keluar kamar. Paling dia keluar hanya untuk mandi, wudhu, kuliah, dan makan. Pintu kamarnya pun tidak pernah terbuka. Suasananya hening seperti tak berpenghuni. Tak ada teriakan dan sosok kebingungan mencari sesuatu lagi. Bahkan mbak Uun hanya melempar senyum kecil saat berpapasan dengan kami. Sejak itu kami tidak pernah meledekinya lagi. Pokoknya antara kami dan mbak Uun seperti sudah berbeda dunia. Kami juga takut sih sebenarnya dekat-dekat dengan mbak Uun yang diduga kuat menjadi korban cuci otak.
Sore ini kami berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan masalah rencana liburan semester genap yang akan kami tempuh. Rosyta sih katanya mau ke Bali buat hunting foto sama bule. Syfa katanya juga mau ke Jogja buat hunting baju batik. Dea juga tak mau kalah. Dia mau ke pulau natal di Australia sana buat relaksasi dan menikmati natural beach (aduh nggak penting banget deh). Kalau mbak Ayu dan mbak Eky katanya liburan ini mau habisin waktu di rumah saja. Ya emang mereka berdua itu sudah semester tua dan mungkin udah tobat buat hura-hura. *hehehe piss mbak. Kali ini aku dan Tere hanya jadi pendengar setia. Soalnya memang kami tak punya rencana mau kemana dan ngapain liburan kali ini. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada mbak Uun di antara kami. Dia lebih memilih tadarus atau tidur daripada ngobrol gak jelas macam kami.

“Mbak Uun… aku pinjam mukena dong.. Mukenaku belum kering nih…” panggil Tere di depan kamar mbak Uun. Dia mengetuk-ngetuk pintu laksana maling yang dikejar hansip. Soalnya sudah jam 5 sore tapi dia belum juga sholat Ashar. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Tanpa pikir panjang, Tere langsung membuka pintu dan masuk. Dia shock berat melihat mbak Uun yang sedang tidur dengan jilbab yang sedikit menyilak ke atas memperlihatkan kepala mbak Uun. Dia segera lari ke kamar dan bercerita padaku. Katanya mbak Uun gak punya rambut alias botak. Mendengar ceritanya, aku tertawa terbahak-bahak tak percaya. “Kamu nglindur ya? Mbak Uun lo rambutnya lebat, hitam, dan berkilau.”, kataku sampil mengkibas-kibaskan rambutku bak iklan shampo. “Ya udah deh. Mungkin emang halusinasiku aja ya.” Jawab Tere pasrah.

“Libur tlah tiba…. Libur tlah tiba…. Hatiku gembira…” sambut anak-anak kos di hari terakhir masuk kuliah. Sore itu kami bersama-sama packing untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kampung halaman besok. Begitu pula mbak Uun. Kulihat dia sibuk membereskan baju-bajunya yang sebagian besar berwarna putih ke dalam ranselnya. Setelah aku selesai beres-beres, aku mencoba memberanikan diri menghampiri mbak Uun. Entah apa yang ada di pikiranku, aku tiba-tiba menyalami mbak Uun yang saat itu menggunakan baju serba putih. Kubantu dia membereskan kamarnya dan kutawari dia sebungkus biskuit. Dia menolak. “Maaf. Hari ini aku puasa, dik. Maaf ya..”

Pagi pun tiba, anak-anak kos berkumpul dan berpamitan pada tante Maria. Suasana di ruang tengah ramai dengan celoteh kami yang saling berpamitan. Kami saling berpelukan, cipika-cipiki, salam-salaman, dan cubit-cubitan. Terang saja selama tiga bulan kedepan kami akan berpisah. Di tengah keramaian itu, kulihat mbak Uun menyalami tante Maria dengan ucapan maaf. Aku merasa aneh dengan mbak Uun. Dari kemarin yang diucapkan hanya maaf melulu. Saat berpamitan pada pada kami, dia juga berkali-kali mengucap maaf. “Aduh mbak kayak mau mati aja deh.. kok minta maaf melelu sih..”, ledek Rosyta. Mbak Uun hanya tersenyum mendengar ledekan Rosyta dudul itu.

Satu persatu anak-anak mulai meninggalkan kosan. Tinggal aku dan mbak Uun yang masih galau menunggu jemputan. Aku yang dasarnya penakut dan anti banget sama yang namanya sendirian, meminta mbak Uun untuk menemaniku. Di dalam kamar, aku bingung mau ngomong apa. Kulihat mbak Uun dari tadi berdiri di depan kaca memandangi dirinya sendiri. “Udah cantik kok mbak.. Eeh tapi kulihat-lihat mbak Uun kok tambah putih ya? Matanya juga kok jadi sipit gitu sih… hayoo jangan-jangan operasi plastik ya? Hehehehe” ledekku. Lagi-lagi mbak Uun hanya menanggapi dengan senyum.

Satu, dua, tiga jam pun berlalu. Aku hanya terdiam di kamar dengan mbak Uun yang dari tadi ngaca melulu. Sampai hapeku berdering tanda ada SMS, akhirnya aku berpamitan pada mbak Uun karena ayahku tercinta sudah menanti di depan. Mbak Uun pun mengantarku ke depan. Dia tersenyum pada ayahku. Kulihat dia mengantarkanku dengan raut kesedihan yang mendalam. Pikirku, “aduh lebay juga ya mbak Uun ini. Tadi sebelum aku dijemput, aku dianggurin gak diajak bicara. Giliran aku dijemput, dia sedih gitu. Iih…”

Di tengah perjalanan, hapeku kembali berdering. Kulihat SMS masuk dari tante Maria. Tumben bangen tuh tante SMS aku. Belum sempat kubaca, dia malah meneleponku. Tapi suaranya gak jelas banget soalnya aku keadaan sedang di jalan. Hanya kata “mbak Uun” yang berhasil aku tangkap dengan jelas di pendengaranku. Akhirnya kumatikan telepon tante Maria. Kubuka SMSnya dan…
Luna, Uun meninggal.
Tolongin tante.Tante bingung harus gimana.
Barusan orang tuanya udah aku kabarin..
Kamu bisa balik nggak?

Terang saja aku langsung shock membaca SMS itu. Kuminta ayah berhenti dan balik ke kosan. Suasana kosan ramai oleh para tetangga, polisi, ambulance, dan beberapa keluarga mbak Uun. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku menerobos diantara kerumunan itu dan masuk kosan. Kulihat teman-teman kosan semua menangis pilu. Kuabaikan mereka dan aku mencari tante Maria. Di ruang tengah, aku mendapati orang tua mbak Uun dan Tante Maria dengan segala kepiluan. Kulihat wajah mbak Uun tersenyum di tengah tangisan mereka. Aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka hanya menangis dan tiba-tiba semua kurasa hening, gelap.
Pagi ini, aku dan teman-teman kosan berniat membantu tante Maria membereskan kamar almarhumah mbak Uun. Saat itu aku membereskan buku-buku yang ada di meja untuk kumasukkan ke kardus besar yang katanya akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Kuambil buku bersampul putih dengan gambar mutiara dan seekor kupu-kupu cantik. Judul bukunya “My Wish to be Live”. Kusisihkan buku itu demi memenuhi hasrat penasaranku. Kutemukan pula map cokelat di bawah tumpukan buku-buku besar. Kuambil pula map itu demi menjawab rasa penasaranku. Dan kembali kumasukkan buku-buku lainnya ke dalam kardus.

Malam harinya, aku bercerita pada Tere tentang buku dan map itu. Rasa penasaran terhadap buku itu membuatku membuka lembar demi lembar. ternyata buku itu adalah diary almarhumah mbak Uun. Dalam buku dan map cokelat itu akhirnya kutemukan jawaban atas keanehan sikap mbak Uun selama ini. Kutemukan pula jawaban atas apa yang pernah Tere lihat sore itu. Map cokelat yang ternyata berisi surat dokter, hasil pengobatan, dan hasil ronsen telah menjawab semuanya. Aku tahu semuanya lewat buku putih itu juga. Ternyata selama ini mbak Uun menyimpan sakitnya. Ia tak punya cukup biaya untuk berobat. Alasan lain, karena ia tak mau merepotkan siapapun. Aku cukup shock dengan tulisan mbak Uun…

Desember ‘11
Aku tahu ini berat bagiku. Sebagai seorang penderita kanker otak, aku harus menahan sakitku ini sendirian. Percuma aku mengabarkan pada semua orang karena mereka pun toh juga tidak dapat menyembuhkanku. Aku tak mau mereka sedih karana aku tahu mereka semua menyayangiku.

Akhir Bulan yang indah ‘11
Hari ini aku menghentikan semuanya. Biarlah nanti aku tidur dalam damainya sakit ini. Allah, setidaknya hamba sudah berusaha dengan mencatat semuanya, mencukupkan istirahat dan doa, serta aku pun sudah menghabiskan seluruh tabungan untuk berobat. Sekarang saatnya aku pasrah bila Engkau mengambilku…

Tulisan terkahirku ‘11
Malam ini aku menari bersama malaikat yang akan menjemputku esok. Terimakasih Tuhan.. Atas kesempatan hidup yang telah banyak Engkau berikan. Aku akan damai dalam pelukan kasih-Mu…

Dan benar itulah tulisan terakhir mbak Uun dalam buku putih itu. Subhanallah ternyata selama ini yang kupikirkan tentang mbak Uun salah besar. Maafkan aku mbak Uun. Semoga kau tenang di sana. Tidurlah dalam damaimu dan menarilah bersama malaikat-malaikat kecil yang akan menghapus segala sakitmu. Maafkan aku. Aku menyayangimu.. Kututup buku itu bersama kenanganku dengan mbak Uun dengan penuh sesal.
***End***




Other keywords: Cerpen kehidupan, tulisan seorang cerpenis, contoh cerpen, cerpen penyesalan

Minggu, 04 Desember 2011

My Dream is My Key to Get My Way

-->Namaku Desyani Lutfihtaningrum. Orang-orang banyak yang memanggilku Desy. Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan ketiga adikku. Dalam keluargaku, hanya ayah tumpuan hidup kami. Tentu saja tidak mudah bagi ayah untuk menghidupi dirinya sendiri, istri dan keempat anaknya.Tetapi  beliau selalu mengerti perasaan anak-anaknya. Saat beliau tidak dapat memenuhi apa yang menjadi keinginan anak-anaknya, beliau selalu mengajari kami tentang indahnya bersyukur. Selain itu, beliau juga selalu memotivasi anak-anaknya agar tetap semangat dan bersungguh-sungguh dalam belajar dan meraih masa depan. Begitu pula dengan ibu. Beliau selalu memberi kami dorongan dan harapan agar kami bisa menjadi yang terbaik. Dari situ lah aku ingin memberikan yang terbaik dan bisa menjadi kebanggaan mereka.


Sejak kecil, aku sangat mengagumi seorang guru. Ketika aku berusia tiga tahun, aku memaksa orang tuaku untuk mendaftarkanku ke sekolah. Di sana aku menjadi siswa terkecil saat itu. Setiap pembagian hasil ujian, selalu ada namaku dalam daftar prestasi tiga besar. Semua itu tidak lepas dari rasa kagumku terhadap guru yang mengajarku. Menurutku, menjadi guru adalah sesuatu yang sangat mulia. Seorang guru mengajarkan kepada siswanya tentang kerasnya hidup, memberantas kebodohan, dan tanpa guru, tidak akan ada sebuah kemajuan. Mungkin dari anggapanku itu lah aku sangat berambisi untuk mejadi guru. Walaupun banyak orang yang menertawakan cita-citaku, tapi aku sangat ingin membuktikan bahwa aku pasti bisa. Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Melawan kebodohan, menanamkan nilai budi pekerti, dan mempersiapkan individu dalam peranan sosial yang dikehendaki merupakan hal yang patut dihargai.


Di era yang semakin maju ini, seseorang dituntut untuk bisa berpikir dinamis dan terbuka. Tapi aku hidup di lingkungan yang masih cukup tradisional. Di mana orang-orang masih asing mendengar kata “Kuliah”. Apalagi untuk seorang wanita. Mereka berfikir bahwa yang terpenting bagi wanita adalah dapur dan kebun. Sangat tradisional. Hanya ada sedikit orang tua yang telah berfikir global. Oleh karena itu tidak heran jika hanya dalam hitungan jari saja yang menyandang gelar sarjana. Tapi aku tidak ingin keadaan ini terus berlangsung. Aku ingin membuktikan bahwa kuliah itu penting. Walaupun sebenarnya aku hanya bermodal semangat dan keinginan. Aku tahu menjadi anak pertama dari empat bersaudara seorang petani kecil itu mustahil akan bisa mengenakan toga dan memperoleh gelar sarjana. Semua orang juga tahu bahwa biaya kuliah tidak semurah harga sekantong garam. Tapi orang tuaku selalu mendukung dan meyakinkan aku bahwa di mana ada kemauan pasti ada jalan.


Aku mempunyai sebuah mimpi. Jika aku bisa kuliah, aku akan bisa membanggakan orang tuaku. Selain itu, aku berharap aku bisa membuktikan kepada orang-orang sehingga mereka yakin bahwa kuliah itu penting. Aku berjanji aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Setelah aku wisuda, dan telah menjadi guru, aku ingin membantu orang tuaku. Sebagai anak pertama, aku mempunyai tanggung jawab besar terhadap masa depan ketiga adikku. Orang bijak mengatakan “Luasnya samudera tidak akan pernah bisa membayar setetes air susu”.  Tetapi setidaknya, aku berharap bisa meringankan beban orang tuaku.

Jumat, 02 Desember 2011

189 Days In Dark Heaven

oleh D. Lutfihtaningrum "Dechyl" pada 2 April 2011 jam 0:28

189 hari bukanlah singkat untuk kita lalui sebuah cerita..
189 hari yg lalu pernah menjadi hari laksana surga..
189 hari aku jaga dirimu..
Kusimpan hatimu..
Kukunci rapat dalam hatiku..
Kubanggakan kamu dalam setiap kata, sikap, dan goresan tintaku..
Tak akan kumaafkan mulut siapapun yang mengatakan keburukanmu..
189 hari kututup rapat mata, telinga, dan hatiku..
Kuusir segala yang mencoba merebutku darimu..
189 hari kucurahkan segala bayang, angan, dan harapan..
Bermimpi kita slalu selamanya saling memiliki..
189 setelah semua'a berawal...
Di situ lah semua'a berakhir...
Tak ada surga, tak ada yg kujaga, kusimpan, kukunci, dan kubanggakan lagi..
Hanya ada tangis yang tertutup rapat dalam senyum kemunafikan..
Penyesalan..
Kesakitan..
Antara hidup dan mati..
Tapi aku yakin..
Allah tak akan memberi hari esok yang seburuk189 hari yang lalu..
Selamat tinggal 189 hari..
Kuharap 189 hari akan menjadi selamanya di hati masing masing...
Allahu a'lam

SEMI SETELAH GUGUR



Cerita ini berawal dari sebuah perjalanan hidup seorang mahasiswi cantik dari keluarga sederhana. Begitu patuhnya dia kepada orang tuanya. Tidak pernah sekalipun ia berkata "ah" atau pun membantah. Sesuatu yang kini sulit dijumpai. Pokoknya beda banget. Bisa dibilang dia itu Zaskia Adya Mecca-nya kampus.
oh Gott,,,,, wie viel Uhr?? Aduuh rek bis-e ngendi se? aku selak telat.”, gumam Aisha.
Terdengar suara klakson Avanza yang dikemudikan oleh Viky, salah seorang pemuja Aisha.
“Beb, bareng aku ye?? Dijamin slamet!”
Ndak usah mas, makasih.”
“Yaudah. Semoga selamat dari Sri galak deh!”, kata Viky sambil meneruskan perjalanan.
Selang beberapa detik kemudian terlihat bis menghampirinya. Dia segera masuk.
“Kampus Coklat, Pak!!”
Dengan nafas lega dia duduk dan berdzikir. Berharap waktu dapat berhenti sejenak atau mungkin waktu mau sedikit berpihak padanya.
Di tengah dzikirnya,
“Permisi mbak. I wanna be boyband… boyband… oooo boyband……”
“Aduh ya Allah nyanyi apa sih tuh mas mas. Ra nggenah. Serasa mau pecah gendang telingaku. Stoooop!!” teriak Aisha dalam hati.
Aisha kesal. Rasanya pengen marah dan jitak kepala si pengamen. Apalagi saat minta uang. Berkali-kali dia bilang “Maaf mas, nggak ada” tapi si pengamen tetap menggoyangkan plastik uangnya hingga terdengar nyaring irama dari uang receh yang berbenturan. Saking jengkelnya, Aisha memasukkan uang Rp10.000 ke dalam plastik tersebut.
“Makasih mbak. Besok lagi ya..”, kata si pengamen cengar-cengir.
Aisha yang terkenal sabar hanya bisa mengusap dada dan menarik nafas panjang.
Keesokan harinya Aisha bertemu si pengamen itu lagi dalam ruang dan suasana yang sama seperti sebelumnya.
“Permisi….. Plis pliss plis pliss dong ah. Melirik sekali saja.. beri aku satu saja alasan tuk bertanya siapa… namamu sebenarnya.. alamatmu di mana…. Nomor hapemu berapa…”
Walah dia lagi. Ya Allah hamba sepet. Sudah wajah kayak gareng, kerempeng, suara kayak gembreng, banyak koreng, tapi tetep saja sok keren.”, keluh Aisha dalam hati.
Dan sekali lagi si pengamen menggodanya. Namun Aisha kali ini tak menggubris sedikitpun dan dia memasukkan uang receh entah berapa ratus rupiah ke dalam plastik itu.
“Sombongnya jadi cewek,,,huhhh, siapa sih namanya? Tak jadiin pacar kapok!”, sekali lagi si pengamen menggodanya.
Setiap hari, sejak Senin hingga Jumat, Aisha selalu bertemu dengan pengamen itu. Bisa dibilang Aisha sudah merasa capek dengan semua tingkah polahnya. Si pengamen pun juga sudah lelah dan kasihan menggoda Aisha. Akhirnya hati mereka luluh dan setelah selesai menyanyikan lagu “Suka Sama Kamu”nya D’Bagindas, si pengamen memberanikan diri untuk memulai perbincangan.
“Mbak, maaf ya kalau aku sering mengganggu sampean. Aku Doyo. Wardoyo. Sampean namanya siapa mbak?”
“Aisha.”
***
Genap satu tahun mereka berteman. Walau hanya bertemu saat di kendaraan umum saja, namun ada perubahan yang terjadi di antara keduanya. Mereka menjalin asmara dan sepakat untuk mengubah statusnya dari lajang menjadi berpacaran. Hari-hari mereka lalui dengan wajar. Mereka saling memahami keadaan satu sama lain. Seandainya keluarga, dapat dibilang mereka adalah keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Aisha berhasil mengubah kepribadian Wardoyo menjadi lebih baik, begitu pula sebaliknya.
“Aisha, aku ingin minta izin ke orang tuamu. Sudah satu tahun lebih kita bersama. Aku ingin serius denganmu. Bolehkah?”,pinta Wardoyo.
“Alhamdulillah. Aku juga sebenarnya ingin mengenalkan kamu ke orang tuaku. Begitu pun sebaliknya. Tapi, yakinkah kamu?”, jawab Aisha lirih.
Setelah melalui perbincangan panjang, akhirnya Aisha mengundang Wardoyo ke rumahnya dan akan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya. Wardoyo sempat ragu dengan keputusannya untuk menemui orang tua Aisha. Dia sadar siapa dia. Dia berpikir bahwa akan menjadi suatu mukjizat besar bila orang tua Aisha mau menerima Wardoyo. Tapi rasa cintanya pada Aisha yang menguatkan. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak ingin main-main.
Langit mulai gelap. Burung-burung pun telah kembali ke sarangnya. Gemerlap lampu kota memancarkan keangkuhannya. Dewi malam dengan malu-malu juga mulai bersolek di balik tebalnya awan hitam. Dengan dandanan yang serba apa adanya, Wardoyo pergi ke rumah Aisha. Butuh waktu satu jam untuk sampai di rumah Aisha. Setelah ia menemukan alamat yang ditulis oleh kekasih hatinya pada secarik kertas, ia segera memarkirkan Smash birunya yang baru akan lunas tahun depan. Dengan suara keras tapi sopan, Wardoyo mengucap salam. Aisha segera menjawab dan menyambut bersama kedua orang tuanya.
“Abi, Umi, perkenalkan ini Wardoyo. Kekasih Aisha.”
“Masuk!”, jawab orang tua Aisha.
“Rumahnya mana mas?”, tanya ayah Aisha.
“Gondang Legi, Pak.” Jawab Wardoyo.
“Kuliah? Jurusan apa mas? Orang tuamu kerjanya apa?”, tanya ayah Aisha tegas.
Mboten, Pak. Saya kerja. Kalau pagi ngamen, sore di bengkel. Kadang juga membantu bapak jadi kuli di pasar. Kalau ibu saya pekerjaanya jadi TKI di Malaysia.”
“APA??? BERANI-BERANINYA KAMU MENDEKATI ANAK SAYA!”, jawab ayah Aisha dengan nada tinggi dan penuh emosi.
“Kamu sadar ndak kamu itu siapa? Punya apa kamu? Sudah wajah pas-pasan, MADESU!! Mau jadi apa anakku nanti kalau sama kamu? Main-main kamu ya.. PERGI!!!”, tambah ayah Aisha.
“Abi, jangan begitu.. Aisha mohon… Kami sudah saling mencintai..”, tangis Aisha.
“TIDAK!! Dasar tidak tahu diri. PERGI!!! Jangan pernah mengganggu anakku lagi!”, jawab ayah Aisha seraya menyeret Wardoyo keluar.
Tanpa banyak bicara, Wardoyo segera menaiki Smashnya dan meninggalkan tempat itu. Dia berpikir bahwa percuma dia menjelaskan panjang lebar kepada ayah aisha yang sedang emosi.
Malam itu, tentunya menjadi malam yang paling kelam bagi Wardoyo. Cintanya harus berakhir. Berkali-kali dia beristighfar seperti yang diajarkan oleh Aisha. Sampai di suatu masjid, ia berhenti. Diambilnya air wudhu dan bersujudlah ia di hadapan Allah, Tuhan yang ia kenal dari Aisha. Dengan linangan air mata dan suara yang amat lirih, ia bermunajat.
Tidak jauh beda dengan Aisha. Lebih dari tiga jam ayahnya memarahi dia. Intinya, ayahnya tidak setuju bila Aisha dengan Wardoyo yang tidak punya jaminan masa depan. Ayahnya ingin Aisha mendapat jodoh yang tampan, berpendidikan, dan lebih kaya agar bisa mengangkat kehidupan keluarganya. Beliau menguliahkan anaknya dengan biaya yang tidak sedikit. Dan tentu saja beliau merasa dihina saat ada lelaki yang hanya tamat SMP dan bekerja sebagai pengamen berani mendekati anaknya.
“Sudah lah Aisha. Benar yang dikatakan Abimu. Memang cinta itu buta. Tapi jangan sampai kamu dibutakan oleh cinta. Abimu setiap hari bekerja keras untuk membiayai hidupmu. Hujan, panas beliau lalui untuk pendidikanmu. Lalu kamu mau merajut masa depanmu dengan pengamen. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia. Penampilan, pendidikan, masa depan, semuanya suram, nak, lupakan dia. Jangan kecewakan kami. Orang tua yang telah membesarkanmu. Kami punya harapan besar padamu dan kami mohon jangan hancurkan harapan kami. Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia.”, kata ibu Aisha menengahi.
Hari-hari berikutnya dijalani Aisha tanpa Wardoyo di sisinya. Senin sampai Jumat, sampai Senin lagi tak sekalipun ia menjumpai Wardoyo. Aisha ingin mencari. Setidaknya ia ingin meminta maaf atas perlakuan ayahnya. Stasiun, terminal, pemukiman kumuh, hingga tempat pembuangan sampah pun sudah ditelusuri oleh Aisha. Tapi hasilnya nihil. Hingga lima tahun lamanya, Wardoyo menghilang dari kehidupan Aisha.
“Hay Aisha, lihat koran ini. Pengamen dari kota kita memenangkan audisi band se-Indonesia dan Malaysia. Dia juga jadi guru musik terbaik Nasional loh. Hebat ya. Nih baca..”, Suara Luna mengacaukan Aisha yang sedang sibuk mengoreksi pekerjaan muridnya.
“Ya sudah taruh situ aja dulu. Aku sibuk”, jawab Aisha datar.
Setelah satu jam Koran itu keleleran di sampingnya, Aisha lantas mengambil dan “JEDEERR” Aisha melihat foto Wardoyo berdasi dan sedang membawa piala. Tanpa banyak aksi, segera ia membaca Koran tersebut. Aisha yang sudah hampir menancapkan bendera “give up” nya, kini bangkit kembali dan membuang jauh bendera itu dari logikanya. Segera ia datangi alamat percetakan Koran tersebut. Setelah melalui proses yang tidak sebentar, akhirnya didapatkan pula sebuah alamat di Jakarta.
Liburan pun tiba. Kesempatan Aisha untuk ke Jakarta menemui Wardoyo. Terpaksa ia membohongi orang tuanya sebab ia tahu bahwa orang tuanya tak mungkin memberi izin. Dengan bekal seadanya, ia melintasi panjangnya jalan dengan kereta api ekonomi. Hingga sampai lah ia di Jakarta. Kota yang hanya ia ketahui lewat media dan cerita. Meski begitu, kekuatan cintanya selalu menguatkan. Walau tiga kali ia ditipu oleh supir angkot dan hampir kecopetan, tak ada kata menyarah lagi dalam hatinya.
“Jalan Soekarno-Hatta nomor 5. Subhanallah, benarkah ini rumah Wardoyo? Besar dan mewah sekali.” Gumam Aisha saat ia menemukan alamat yang ia cari.
Ia sempat tidak percaya dan ragu-ragu. Tapi saat memasuki gerbang rumah itu, dilihatnya Wardoyo sedang sibuk memasukkan barang ke mobil dan seperti hendak pergi. Aisha tak mau kehilangan Wardoyo lagi. Ia segera lari menghampiri Wardoyo yang terlihat lebih baik dari yang dulu. Tak perlu panjang lebar, air mata mengalir dari keduanya. Air mata curahan kerinduan di antara keduanya.
“Kamu ngapain ke sini?”, Tanya Wardoyo cemas.
“Aku mencarimu. Aku sayang kamu. Maafin aku dan orang tuaku. Kamu jangan pergi lagi.”, isak Aisha.
It’s all for you, for your parents, and for us. Maafkan aku juga, Sayang. Aku tak akan meninggalkan kamu lagi. Aku ini mau pulang ke Gondang Legi dan berniat melamarmu. Kau masih kekasihku kan?”, kata Wardoyo menenangkan kekasihnya.
Aisha tak mampu lagi berbicara. Ia hanya mengangguk untuk menjawab semua itu. Setelah beberapa waktu, mereka berdua pun pulang dengan Honda Jazz merah yang baru dibeli Wardoyo secara tunai.
Tidak mau berlama-lama lagi, suatu malam Wardoyo beserta kedua orang tuanya pergi ke rumah Aisha. Diketuknya pintu rumah Aisha sambil mengucap salam. Ayah Aisha yang sedang membaca Koran di ruang tamu segera membuka pintu seraya menjawab salam.
“Selamat malam pak. Masih ingat saya? Saya Wardoyo. Malam ini saya beserta kedua orang tua saya bermaksud untuk melamar putri bapak, Aisha.”
“masuklah!”
Di ruang tamu, beserta Aisha dan Ibunya, mereka bercakap-cakap.
“Pak, Bu, saya serius dengan Aisha. Saya minta maaf atas kelancangan saya. Saya sekarang sudah bekerja di sebuah Institut Negeri di Jakarta dan musisi di Indonesia-Malaysia. Bapak dan Ibu tidak perlu cemas dengan masa depan Aisha. Insya Allah saya bisa menjadi imam untuk Aisha. Maafkan saya Pak, Bu. Selama lima tahun ini saya berusaha untuk mencari ilmu dan memperbaiki ekonomi saya. Saya berusaha untuk menjadi apa yang Bapak, Ibu, dan Aisha mau. Dan ini lah hasilnya. Sekarang, bolehkah saya menjadi bagian dari hidup Aisha?”, pinta Wardoyo.
“Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu bercerita panjang lebar. Selama lima tahun yang lalu kamu boleh menghilang dari Aisha. Tapi tidak dari saya. Saya tahu apa yang kamu lakukan. Bahkan saat Aisha untuk pertama kalinya berani membohongi saya agar bisa pergi ke Jakarta dan menemui kamu. Saya salut dengan kalian, Nak. Dan saya pikir, tidak ada alasan lagi untuk tidak mengizinkan kamu menjadi menantu saya. Jaga baik-baik anak saya. Jadilah keluarga yang kelak bisa menjadi teladan untuk orang lain. Kami restui kalian berdua, nak.”, jawab ayah Aisha, pasti.