Cerita ini berawal dari sebuah perjalanan hidup seorang mahasiswi cantik dari keluarga sederhana. Begitu patuhnya dia kepada orang tuanya. Tidak pernah sekalipun ia berkata "ah" atau pun membantah. Sesuatu yang kini sulit dijumpai. Pokoknya beda banget. Bisa dibilang dia itu Zaskia Adya Mecca-nya kampus.
“oh Gott,,,,, wie viel Uhr?? Aduuh rek bis-e ngendi se? aku selak telat.”, gumam Aisha.
Terdengar suara klakson Avanza yang dikemudikan oleh Viky, salah seorang pemuja Aisha.
“Beb, bareng aku ye?? Dijamin slamet!”
“Ndak usah mas, makasih.”
“Yaudah. Semoga selamat dari Sri galak deh!”, kata Viky sambil meneruskan perjalanan.
Selang beberapa detik kemudian terlihat bis menghampirinya. Dia segera masuk.
“Kampus Coklat, Pak!!”
Dengan nafas lega dia duduk dan berdzikir. Berharap waktu dapat berhenti sejenak atau mungkin waktu mau sedikit berpihak padanya.
Di tengah dzikirnya,
“Permisi mbak. I wanna be boyband… boyband… oooo boyband……”
“Aduh ya Allah nyanyi apa sih tuh mas mas. Ra nggenah. Serasa mau pecah gendang telingaku. Stoooop!!” teriak Aisha dalam hati.
Aisha kesal. Rasanya pengen marah dan jitak kepala si pengamen. Apalagi saat minta uang. Berkali-kali dia bilang “Maaf mas, nggak ada” tapi si pengamen tetap menggoyangkan plastik uangnya hingga terdengar nyaring irama dari uang receh yang berbenturan. Saking jengkelnya, Aisha memasukkan uang Rp10.000 ke dalam plastik tersebut.
“Makasih mbak. Besok lagi ya..”, kata si pengamen cengar-cengir.
Aisha yang terkenal sabar hanya bisa mengusap dada dan menarik nafas panjang.
Keesokan harinya Aisha bertemu si pengamen itu lagi dalam ruang dan suasana yang sama seperti sebelumnya.
“Permisi….. Plis pliss plis pliss dong ah. Melirik sekali saja.. beri aku satu saja alasan tuk bertanya siapa… namamu sebenarnya.. alamatmu di mana…. Nomor hapemu berapa…”
“Walah dia lagi. Ya Allah hamba sepet. Sudah wajah kayak gareng, kerempeng, suara kayak gembreng, banyak koreng, tapi tetep saja sok keren.”, keluh Aisha dalam hati.
Dan sekali lagi si pengamen menggodanya. Namun Aisha kali ini tak menggubris sedikitpun dan dia memasukkan uang receh entah berapa ratus rupiah ke dalam plastik itu.
“Sombongnya jadi cewek,,,huhhh, siapa sih namanya? Tak jadiin pacar kapok!”, sekali lagi si pengamen menggodanya.
Setiap hari, sejak Senin hingga Jumat, Aisha selalu bertemu dengan pengamen itu. Bisa dibilang Aisha sudah merasa capek dengan semua tingkah polahnya. Si pengamen pun juga sudah lelah dan kasihan menggoda Aisha. Akhirnya hati mereka luluh dan setelah selesai menyanyikan lagu “Suka Sama Kamu”nya D’Bagindas, si pengamen memberanikan diri untuk memulai perbincangan.
“Mbak, maaf ya kalau aku sering mengganggu sampean. Aku Doyo. Wardoyo. Sampean namanya siapa mbak?”
“Aisha.”
Genap satu tahun mereka berteman. Walau hanya bertemu saat di kendaraan umum saja, namun ada perubahan yang terjadi di antara keduanya. Mereka menjalin asmara dan sepakat untuk mengubah statusnya dari lajang menjadi berpacaran. Hari-hari mereka lalui dengan wajar. Mereka saling memahami keadaan satu sama lain. Seandainya keluarga, dapat dibilang mereka adalah keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Aisha berhasil mengubah kepribadian Wardoyo menjadi lebih baik, begitu pula sebaliknya.
“Aisha, aku ingin minta izin ke orang tuamu. Sudah satu tahun lebih kita bersama. Aku ingin serius denganmu. Bolehkah?”,pinta Wardoyo.
“Alhamdulillah. Aku juga sebenarnya ingin mengenalkan kamu ke orang tuaku. Begitu pun sebaliknya. Tapi, yakinkah kamu?”, jawab Aisha lirih.
Setelah melalui perbincangan panjang, akhirnya Aisha mengundang Wardoyo ke rumahnya dan akan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya. Wardoyo sempat ragu dengan keputusannya untuk menemui orang tua Aisha. Dia sadar siapa dia. Dia berpikir bahwa akan menjadi suatu mukjizat besar bila orang tua Aisha mau menerima Wardoyo. Tapi rasa cintanya pada Aisha yang menguatkan. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak ingin main-main.
Langit mulai gelap. Burung-burung pun telah kembali ke sarangnya. Gemerlap lampu kota memancarkan keangkuhannya. Dewi malam dengan malu-malu juga mulai bersolek di balik tebalnya awan hitam. Dengan dandanan yang serba apa adanya, Wardoyo pergi ke rumah Aisha. Butuh waktu satu jam untuk sampai di rumah Aisha. Setelah ia menemukan alamat yang ditulis oleh kekasih hatinya pada secarik kertas, ia segera memarkirkan Smash birunya yang baru akan lunas tahun depan. Dengan suara keras tapi sopan, Wardoyo mengucap salam. Aisha segera menjawab dan menyambut bersama kedua orang tuanya.
“Abi, Umi, perkenalkan ini Wardoyo. Kekasih Aisha.”
“Masuk!”, jawab orang tua Aisha.
“Rumahnya mana mas?”, tanya ayah Aisha.
“Gondang Legi, Pak.” Jawab Wardoyo.
“Kuliah? Jurusan apa mas? Orang tuamu kerjanya apa?”, tanya ayah Aisha tegas.
“Mboten, Pak. Saya kerja. Kalau pagi ngamen, sore di bengkel. Kadang juga membantu bapak jadi kuli di pasar. Kalau ibu saya pekerjaanya jadi TKI di Malaysia.”
“APA??? BERANI-BERANINYA KAMU MENDEKATI ANAK SAYA!”, jawab ayah Aisha dengan nada tinggi dan penuh emosi.
“Kamu sadar ndak kamu itu siapa? Punya apa kamu? Sudah wajah pas-pasan, MADESU!! Mau jadi apa anakku nanti kalau sama kamu? Main-main kamu ya.. PERGI!!!”, tambah ayah Aisha.
“Abi, jangan begitu.. Aisha mohon… Kami sudah saling mencintai..”, tangis Aisha.
“TIDAK!! Dasar tidak tahu diri. PERGI!!! Jangan pernah mengganggu anakku lagi!”, jawab ayah Aisha seraya menyeret Wardoyo keluar.
Tanpa banyak bicara, Wardoyo segera menaiki Smashnya dan meninggalkan tempat itu. Dia berpikir bahwa percuma dia menjelaskan panjang lebar kepada ayah aisha yang sedang emosi.
Malam itu, tentunya menjadi malam yang paling kelam bagi Wardoyo. Cintanya harus berakhir. Berkali-kali dia beristighfar seperti yang diajarkan oleh Aisha. Sampai di suatu masjid, ia berhenti. Diambilnya air wudhu dan bersujudlah ia di hadapan Allah, Tuhan yang ia kenal dari Aisha. Dengan linangan air mata dan suara yang amat lirih, ia bermunajat.
Tidak jauh beda dengan Aisha. Lebih dari tiga jam ayahnya memarahi dia. Intinya, ayahnya tidak setuju bila Aisha dengan Wardoyo yang tidak punya jaminan masa depan. Ayahnya ingin Aisha mendapat jodoh yang tampan, berpendidikan, dan lebih kaya agar bisa mengangkat kehidupan keluarganya. Beliau menguliahkan anaknya dengan biaya yang tidak sedikit. Dan tentu saja beliau merasa dihina saat ada lelaki yang hanya tamat SMP dan bekerja sebagai pengamen berani mendekati anaknya.
“Sudah lah Aisha. Benar yang dikatakan Abimu. Memang cinta itu buta. Tapi jangan sampai kamu dibutakan oleh cinta. Abimu setiap hari bekerja keras untuk membiayai hidupmu. Hujan, panas beliau lalui untuk pendidikanmu. Lalu kamu mau merajut masa depanmu dengan pengamen. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia. Penampilan, pendidikan, masa depan, semuanya suram, nak, lupakan dia. Jangan kecewakan kami. Orang tua yang telah membesarkanmu. Kami punya harapan besar padamu dan kami mohon jangan hancurkan harapan kami. Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia.”, kata ibu Aisha menengahi.
Hari-hari berikutnya dijalani Aisha tanpa Wardoyo di sisinya. Senin sampai Jumat, sampai Senin lagi tak sekalipun ia menjumpai Wardoyo. Aisha ingin mencari. Setidaknya ia ingin meminta maaf atas perlakuan ayahnya. Stasiun, terminal, pemukiman kumuh, hingga tempat pembuangan sampah pun sudah ditelusuri oleh Aisha. Tapi hasilnya nihil. Hingga lima tahun lamanya, Wardoyo menghilang dari kehidupan Aisha.
“Hay Aisha, lihat koran ini. Pengamen dari kota kita memenangkan audisi band se-Indonesia dan Malaysia. Dia juga jadi guru musik terbaik Nasional loh. Hebat ya. Nih baca..”, Suara Luna mengacaukan Aisha yang sedang sibuk mengoreksi pekerjaan muridnya.
“Ya sudah taruh situ aja dulu. Aku sibuk”, jawab Aisha datar.
Setelah satu jam Koran itu keleleran di sampingnya, Aisha lantas mengambil dan “JEDEERR” Aisha melihat foto Wardoyo berdasi dan sedang membawa piala. Tanpa banyak aksi, segera ia membaca Koran tersebut. Aisha yang sudah hampir menancapkan bendera “give up” nya, kini bangkit kembali dan membuang jauh bendera itu dari logikanya. Segera ia datangi alamat percetakan Koran tersebut. Setelah melalui proses yang tidak sebentar, akhirnya didapatkan pula sebuah alamat di Jakarta.
Liburan pun tiba. Kesempatan Aisha untuk ke Jakarta menemui Wardoyo. Terpaksa ia membohongi orang tuanya sebab ia tahu bahwa orang tuanya tak mungkin memberi izin. Dengan bekal seadanya, ia melintasi panjangnya jalan dengan kereta api ekonomi. Hingga sampai lah ia di Jakarta. Kota yang hanya ia ketahui lewat media dan cerita. Meski begitu, kekuatan cintanya selalu menguatkan. Walau tiga kali ia ditipu oleh supir angkot dan hampir kecopetan, tak ada kata menyarah lagi dalam hatinya.
“Jalan Soekarno-Hatta nomor 5. Subhanallah, benarkah ini rumah Wardoyo? Besar dan mewah sekali.” Gumam Aisha saat ia menemukan alamat yang ia cari.
Ia sempat tidak percaya dan ragu-ragu. Tapi saat memasuki gerbang rumah itu, dilihatnya Wardoyo sedang sibuk memasukkan barang ke mobil dan seperti hendak pergi. Aisha tak mau kehilangan Wardoyo lagi. Ia segera lari menghampiri Wardoyo yang terlihat lebih baik dari yang dulu. Tak perlu panjang lebar, air mata mengalir dari keduanya. Air mata curahan kerinduan di antara keduanya.
“Kamu ngapain ke sini?”, Tanya Wardoyo cemas.
“Aku mencarimu. Aku sayang kamu. Maafin aku dan orang tuaku. Kamu jangan pergi lagi.”, isak Aisha.
“It’s all for you, for your parents, and for us. Maafkan aku juga, Sayang. Aku tak akan meninggalkan kamu lagi. Aku ini mau pulang ke Gondang Legi dan berniat melamarmu. Kau masih kekasihku kan?”, kata Wardoyo menenangkan kekasihnya.
Aisha tak mampu lagi berbicara. Ia hanya mengangguk untuk menjawab semua itu. Setelah beberapa waktu, mereka berdua pun pulang dengan Honda Jazz merah yang baru dibeli Wardoyo secara tunai.
Tidak mau berlama-lama lagi, suatu malam Wardoyo beserta kedua orang tuanya pergi ke rumah Aisha. Diketuknya pintu rumah Aisha sambil mengucap salam. Ayah Aisha yang sedang membaca Koran di ruang tamu segera membuka pintu seraya menjawab salam.
“Selamat malam pak. Masih ingat saya? Saya Wardoyo. Malam ini saya beserta kedua orang tua saya bermaksud untuk melamar putri bapak, Aisha.”
“masuklah!”
Di ruang tamu, beserta Aisha dan Ibunya, mereka bercakap-cakap.
“Pak, Bu, saya serius dengan Aisha. Saya minta maaf atas kelancangan saya. Saya sekarang sudah bekerja di sebuah Institut Negeri di Jakarta dan musisi di Indonesia-Malaysia. Bapak dan Ibu tidak perlu cemas dengan masa depan Aisha. Insya Allah saya bisa menjadi imam untuk Aisha. Maafkan saya Pak, Bu. Selama lima tahun ini saya berusaha untuk mencari ilmu dan memperbaiki ekonomi saya. Saya berusaha untuk menjadi apa yang Bapak, Ibu, dan Aisha mau. Dan ini lah hasilnya. Sekarang, bolehkah saya menjadi bagian dari hidup Aisha?”, pinta Wardoyo.
“Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu bercerita panjang lebar. Selama lima tahun yang lalu kamu boleh menghilang dari Aisha. Tapi tidak dari saya. Saya tahu apa yang kamu lakukan. Bahkan saat Aisha untuk pertama kalinya berani membohongi saya agar bisa pergi ke Jakarta dan menemui kamu. Saya salut dengan kalian, Nak. Dan saya pikir, tidak ada alasan lagi untuk tidak mengizinkan kamu menjadi menantu saya. Jaga baik-baik anak saya. Jadilah keluarga yang kelak bisa menjadi teladan untuk orang lain. Kami restui kalian berdua, nak.”, jawab ayah Aisha, pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar