Minggu, 04 Desember 2011

My Dream is My Key to Get My Way

-->Namaku Desyani Lutfihtaningrum. Orang-orang banyak yang memanggilku Desy. Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan ketiga adikku. Dalam keluargaku, hanya ayah tumpuan hidup kami. Tentu saja tidak mudah bagi ayah untuk menghidupi dirinya sendiri, istri dan keempat anaknya.Tetapi  beliau selalu mengerti perasaan anak-anaknya. Saat beliau tidak dapat memenuhi apa yang menjadi keinginan anak-anaknya, beliau selalu mengajari kami tentang indahnya bersyukur. Selain itu, beliau juga selalu memotivasi anak-anaknya agar tetap semangat dan bersungguh-sungguh dalam belajar dan meraih masa depan. Begitu pula dengan ibu. Beliau selalu memberi kami dorongan dan harapan agar kami bisa menjadi yang terbaik. Dari situ lah aku ingin memberikan yang terbaik dan bisa menjadi kebanggaan mereka.


Sejak kecil, aku sangat mengagumi seorang guru. Ketika aku berusia tiga tahun, aku memaksa orang tuaku untuk mendaftarkanku ke sekolah. Di sana aku menjadi siswa terkecil saat itu. Setiap pembagian hasil ujian, selalu ada namaku dalam daftar prestasi tiga besar. Semua itu tidak lepas dari rasa kagumku terhadap guru yang mengajarku. Menurutku, menjadi guru adalah sesuatu yang sangat mulia. Seorang guru mengajarkan kepada siswanya tentang kerasnya hidup, memberantas kebodohan, dan tanpa guru, tidak akan ada sebuah kemajuan. Mungkin dari anggapanku itu lah aku sangat berambisi untuk mejadi guru. Walaupun banyak orang yang menertawakan cita-citaku, tapi aku sangat ingin membuktikan bahwa aku pasti bisa. Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Melawan kebodohan, menanamkan nilai budi pekerti, dan mempersiapkan individu dalam peranan sosial yang dikehendaki merupakan hal yang patut dihargai.


Di era yang semakin maju ini, seseorang dituntut untuk bisa berpikir dinamis dan terbuka. Tapi aku hidup di lingkungan yang masih cukup tradisional. Di mana orang-orang masih asing mendengar kata “Kuliah”. Apalagi untuk seorang wanita. Mereka berfikir bahwa yang terpenting bagi wanita adalah dapur dan kebun. Sangat tradisional. Hanya ada sedikit orang tua yang telah berfikir global. Oleh karena itu tidak heran jika hanya dalam hitungan jari saja yang menyandang gelar sarjana. Tapi aku tidak ingin keadaan ini terus berlangsung. Aku ingin membuktikan bahwa kuliah itu penting. Walaupun sebenarnya aku hanya bermodal semangat dan keinginan. Aku tahu menjadi anak pertama dari empat bersaudara seorang petani kecil itu mustahil akan bisa mengenakan toga dan memperoleh gelar sarjana. Semua orang juga tahu bahwa biaya kuliah tidak semurah harga sekantong garam. Tapi orang tuaku selalu mendukung dan meyakinkan aku bahwa di mana ada kemauan pasti ada jalan.


Aku mempunyai sebuah mimpi. Jika aku bisa kuliah, aku akan bisa membanggakan orang tuaku. Selain itu, aku berharap aku bisa membuktikan kepada orang-orang sehingga mereka yakin bahwa kuliah itu penting. Aku berjanji aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Setelah aku wisuda, dan telah menjadi guru, aku ingin membantu orang tuaku. Sebagai anak pertama, aku mempunyai tanggung jawab besar terhadap masa depan ketiga adikku. Orang bijak mengatakan “Luasnya samudera tidak akan pernah bisa membayar setetes air susu”.  Tetapi setidaknya, aku berharap bisa meringankan beban orang tuaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar