Oleh: Desyani Lutfihtaningrum
(Senin, 1 Juli 2013)--Sebelumnya saya
minta maaf, postingan saya ini bukanlah karya fiksi (cerpen, puisi, maupun
sejenisnya), melainkan cipta, rasa, karsa saya sendiri yang secara nyata saya
alami dan sangat saya rasakan selama liburan semester ini. Saya juga minta maaf
apabila postingan ini nanti menyinggung perasaan pribadi maupun golongan
tertentu, bersifat SARA, atau mungkin akan menimbulkan pemikiran-pemikiran negatif. Tetapi maksud saya memublikasikan tulisan ini sama
sekali bukan untuk itu, melainkan saya butuh kelurusan dari bengkoknya ilmu dan
pengalaman saya, dari simpang siurnya cabang-cabang jalan menuju surga. Baiklah
saya tidak ingin berbelit-belit serta panjang lebar lagi karena memang sudah
ukurannya segini, langsung saja saya mulai bercerita. Begini ceritanya:
Beberapa waktu
yang lalu, sampai hari ini dan beberapa waktu ke depan saya sedang menikmati
liburan akhir semester genap. Awalnya cukup membahagiakan bagi saya sebagai
seorang perantau, ini adalah kesempatan untuk lebih lama berkumpul bersama
keluarga, saudara, teman lama, syukur-syukur bisa mendapat kerja. Ya saya
memang seorang perantau. Saya lahir dan tinggal di daerah terpencil di Indonesia, dan sekarang menempuh kuliah di kota besar, Jawa Timur. Kalau
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina,
saat ini saya masih sampai di negeri sendiri, tetapi justru di sini saya lebih
banyak mempelajari negara tetangga. Ahh sudahlah bukan itu maksud dan tujuan
saya.
Satu, dua, tiga
hari berlalu memang begitu membahagiakan di kampung halaman. Makan tidak usah
beli, tidak perlu membaca buku-buku asing, tidak berjibaku dengan tugas, tidak
takut kesepian, kehangatan dan kebahagiaan keluarga cukup tercurah dari dan
untuk saya. Tapi memang sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di rumah,
saya merasakan keganjalan dalam hati saya. Suasana di sini sangat berbeda
dengan di kosan. Sangat amat berbeda, baik secara positif maupun negatif. Sejak
pertama sampai hari ini saya berusaha mengikuti tradisi, kebiasaan, dan suasana
di sini meski pun hati kecil saya sebenarnya memberontak. Kekecewaan berat
sangat saya rasakan sebab saya dengan durasi kurang lebih 3 jam di Kereta Api
harus membawa tas yang di dalamnya berisi Al-Qur’an yang beratnya sekitar 2Kg,
dan laptop yang beratnya juga sekitar 2,5Kg—di dalamnya banyak sekali aplikasi
Al-Qur’an digital, Al Hadist, Al-Kitab, Fiqih, dan Sunnah-sunnah lainnya—dengan
harapan saya akan banyak mempelajarinya di rumah bersama keluarga. Tetapi
inilah kenyataan. Jangankan bersama keluarga, sendiri pun tidak terlaksana.
Al-Qur-‘an sangat rapi di dalam lemari. Aplikasi sangat dalam tersimpan di
laptop. Tapi itu belum seberapa.
Apabila masalah
saya hanya tidak bisa membaca Al-Qur’an serta mempelajari agama di rumah, itu
tidak akan memaksa saya membuat tulisan ini dengan judul sedemikian rupa. Yang
lebih membuat hati saya menggeliat mengusik renungan dan membuat sukma saya
berteriak adalah kebudayaan aneh yang dilaksanakan hampir setiap hari di
lingkungan saya ini.
Sebelumnya, satu
tahun yang lalu saya mendapatkan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam yang
dibimbing oleh dosen Islam dari golongan Ahlus
Sunnah wal Jama’ah(maaf saya menyebut merk). Saat itu kami membahas jalan-jalan menuju surga, dan tiba-tiba
beliau menyebutkan salah satu golongan dalam Islam, HTI (Hizbut Tahrir
Indonesia). Nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi telinga dan mata saya sebab
sudah sangat sering kata tersebut dikumandangkan beserta pengikutnya yang
berkoar-koar di kampus. Tetapi kemudian beliau berkata, “Saya juga pengikut
HTI.” Kemudian beliau menuliskan “Hizbut Tahlil Indonesia” di papan tulis
sambil terkekeh. Teman-teman pun terkekeh. Saya ikut terkekeh karena saya pikir
itu hanya plesetan saja. Tidak hanya itu, satu tahun yang lalu pula, saat saya
mengikuti Sholat Idul Fitri di kampung halaman, saya mendengarkan khutbah, dan
khotib berkata, “Jangan sampai kita membiarkan anak cucu kita terjerumus ke
dalam aliran HTI yang tidak percaya kepada qada’
dan qadar, dan tentu saja sudah
menyimpang karena tidak sesuai Rukun Iman.” Saya pikir, mungkin saya salah dengar karena
pengeras suara di masjid memang sangat buruk. Tapi ya beginilah
saya. Selalu tidak sinkron antara otak dengan hati. Kemudian saya bertanya pada
buku, teman-teman saya, bahkan sempat berniat untuk tanya pada pengikut HTI
juga tetapi saya belum ada nyali, takut mereka tersinggung. Awalnya jawaban
dari teman saya sedikit cukup melegakan walau pun mengambang. Mereka rata-rata
menjawab “Alah sudahlah yang penting kita melakukan yang terbaik serta
memercayai apa yang kita anggap benar dan sesuai dengan masyarakat.” Baiklah
saya mengangguk dan berhenti mencari kebenaran sampai saat ini tiba.
Liburan datang,
hati senang namun bimbang serta tidak tenang. Itulah yang saat ini saya
rasakan. Kebudayaan yang saya maksud di awal tadi adalah kebudayaan Tahlilan di
lingkungan saya. Memang sudah tidak asing lagi bagi saya karena sejak sebelum
saya dilahirkan sampai saat ini dan mungkin seterusnya, kebudayaan ini sudah
berakar dan benar-benar membudaya. Ada orang meninggal, tahlilan. Setiap satu
minggu sekali terbagi atas beberapa golongan jama’ah, tahlilan. Ada hajatan,
tahlilan. Memeringati hari besar pun tahlilan. Kalau tahlilan saja sama sekali
tidak aneh dan saya dapat memaklumi. Tapi kemudian hati dan pikiran saya
kembali tidak sinkron. Saat tetangga saya akan mengadakan tahlilan, saya pergi
ke rumahnya untuk membantu sebisa saya. Kemudian setelah melalui pemikiran
panjang dan lama, saya memberanikan diri untuk bertanya berapa rupiah yang
harus dikeluarkan untuk mempersiapkan ini semua. Saya sangat tahu kondisi
ekonomi keluarga ini. jangankan untuk membeli daging ayam, beras saja mereka
selalu membeli yang paling murah, warna cokelat, bau apek, dan berkutu. Tapi
hari itu saya melihat daging ayam yang sangat banyak, beras putih dan wangi,
sayuran, jajanan beraneka ragam, serta beberapa kardus teh kemasan. Tetapi mbak yang saya tanyai itu hanya
tersenyum mengatakan dengan polos, wajah memelas dan logat yang sangat
kental, “Gak opopo. Sodakoh digawe almarhum. (tidak apa-apa. Sedekah untuk
almarhum)” Baiklah lagi-lagi saya memaklumi dengan pikiran positif
“Alhamdulillah kalau tidak begini mereka belum tentu makan enak. Memang kita dianjurkan untuk memberikan yang terbaik sepert yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh agama sebelumnya.” Tapi kemudian
hati kembali mengusik, “Tapi kalau ini dari uang pinjaman, butuh berapa lama
mereka untuk mengembalikannya? Sanggupkah mereka? Bukankah minimal satu tahun
sekali mereka harus melaksanakan tahlilan seperti ini?” Belum sempat saya menghentikan
perdebatan ini, saya kembali menemui kenyataan yang membuat suasana hati
semakin carut-marut. Saya menemukan meja di sebuah kamar, di atas meja tersebut
ada beberapa piring makanan dan segelas bunga yang direndam air, dan sepincuk lagi di biarkan terbuka. Sebenarnya
ini sama sekali bukan hal baru bagi saya. Tetapi saya kaget, sangat kaget
karena sudah sangat lama saya tidak menemukan ini dan saya pikir tradisi
seperti itu sudah hilang. Dengan pura-pura polos saya bertanya, “Mbak, ini opo?
kok gawe kembang? Iki kan wes bengi gak usah kembang yo ndak bakal ono
laler kok.(Mbak ini apa? Kok pakai bunga? Ini kan sudah malam tidak
usah pakai bunga pun tidak akan ada lalat kok)” Kembali dengan logatnya yang khas dan
senyum, dia menjawab, “Gawe almarhum” Ahh benar kan ini sesaji. MasyaAllah.
Di sini saya
hanya orang biasa yang tidak pernah memberi pengaruh apa-apa kepada siapa saja,
meski orang tua saya pemimpin kampung. Kata-kata saya tidak pernah benar-benar
didengar bahkan oleh orang tua saya. Saya dikenal pendiam dan tertutup kepada
siapa saja, termasuk kepada keluarga. Oleh karena itu pada saat saya menemui
keganjalan ini dan apapun, saya hanya bisa menerka-nerka, bertanya pada diri
sendiri, kadang pada teman-teman—yang sebenarnya juga tidak pernah benar-benar
peduli dengan kebengkokan ini. Tetapi karena kali ini saya benar-benar muak dan
mungkin saja muntab dengan keadaan ini, saya kemudian teringat dengan kata HTI
(Hizbut Tahlil Indonesia) yang dulu kami tertawakan berjamaah.
Saya harus sangat
hati-hati dalam memvonis sesuatu. Jadi, saya melakukan beberapa pengamatan dan
hasilnya sangat mengejutkan. Sebagian lebih dari jamaah Tahlil di sini buta
tulisan arab. Lalu bagaimana mereka bertahlil? Ahh mungkin mereka belajar dari
pendengaran kemudian menirukan. Ok tidak masalah dan malah bagus meski tidak
bisa membaca tulisan arab, setidaknya mereka pernah melafadzkan ayat-ayat Allah
dan kalimat-kalimat Berbahasa Arab. Bisa jadi do'a yang belum tentu mereka mengerti itu lebih dikabulkan oleh Allah karena niat dan ketulusan mereka yang luar biasa. Namun Faktanya tidak hanya masalah mereka buta
tulisan arab, tetapi mereka dan anak cucu mereka hampir 75% tidak diajarkan—bahkan
tidak dianjurkan--menutup aurat. Bukankah menutup aurat itu wajib? Mereka malah
terlihat mengucilkan dan tidak jarang “Ngrasani” perempuan yang berjilbab
syar’i dan menutup aurat dengan sempurna. MasyaAllah.
Kemudian fakta berikutnya yang saya dapati adalah bahwa hampir sebagian
besar masyarakat (jamaah tahlil) tidak melaksanakan Sholat. Bukankah sholat itu
tiang agama? Bukankah Sholat itu wajib? Bukankah Sholat itu pesan terakhir Nabi
Muhammad SAW sebelum wafat? Lalu bagaimana bisa mereka kebingungan saat lupa
tidak tahlilan, sementara mereka bersantai berleha-leha dan sengaja melupakan
waktu sholat? Ada pula yang dengan santainya menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak bisa sholat. Selain itu, saya pun tidak pernah mendengar adzan Dzuhur dan Ashar sejak
hari pertama liburan sampai hari ini di mushola dekat rumah.
Ini tidak hanya
terjadi di lingkungan sekitar saya, tetapi juga di keluarga saya. Saya sangat
menyadari itu. Ayah saya sangat rajin sholat tapi tidak untuk yang lain. Ketika waktu sholat tiba, saya hanya menangis dan berteriak dalam
hati. Saya ingin sholat tapi selalu tak diberi kesempatan (atau mungkin saya
yang terlalu meratapi kenyataan, atau mungkin saya yang terlalu larut dalam
kebudayaan). Beberapa waktu yang lalu saya ingin keluar untuk berbelanja. Saat itu siang hari dan sinar matahari cukup menyengat. Saya
akan pergi mengenakan rok panjang, baju lengan panjang yang besar, dan hendak
mengenakan kerudung. Tiba-tiba ibu berkata bahwa hari ini cuaca sangat panas
dan beliau malas melihat saya dengan pakaian kebesaran seperti itu. Baiklah
tanpa kata—karena percuma saya berkata-kata pun tak akan didengar—saya berganti
pakaian super seksi dan enerjik, tanpa kerudung. Astaghfirullah.
Saya benar-benar
menyesali apa yang saya tertawakan berjamaah waktu itu. Kini saya mulai
menyadari bahwa HTI yang saya kira hanya plesetan itu memang benar-benar ada.
HTI yang saya kira salah dengar saat khutbah sholat Idul Fitri itu memang
benar-benar terjadi dan nyata. Tapi mengapa yang berkumandang, yang
menertawakan, yang melarang justru mereka (kami) yang melakukannya sendiri?
Siapa yang sebenarnya bengkok? Siapa yang bobrok? Di sini saya akan sama sekali
tidak puas dengan jawaban “Kita serahkan semua pada Allah. Hanya Allah yang
tahu kebenaran yang paling benar. Yang penting kita melakukan yang terbaik
dan meyakini apa yang kita dan banyak orang yakini.” Salah! Allah telah
mengkaruniai kita otak untuk berfikir, hati untuk merasakan, serta utusan untuk
menjadi panutan. Oleh karena itu, karena minimnya pengetahuan saya, serta
terbatasnya ajaran agama yang “berani” saya pelajari, saya mohon bimbingan dari
siapa pun secara bijak.
Entahlah saya
tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Di sini, saya ingin memohon
bimbingan siapa saja untuk meluruskan kebengkokan ini. Paling tidak dengan ini
saya sudah merasakan sedikit kelegaan. Mohon maaf apabila artikel ini tidak
berada pada tempatnya. Mohon kebijakan pemikiran anda sekalian dalam menanggapi
masalah ini. terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar